Catper Gunung Argopuro : The Hidden Paradiso (21 – 26 Januari 2014)


Argopuro - The Hidden Paradise

Argopuro berada di deretan pegunungan Hyang tepatnya di tiga kabupaten yaitu, Probolinggo, Jember dan Situbondo. Gunung Argopuro adalah gunung dengan trek terpanjang di pulau Jawa. Jarak yang ditempuh oleh pendaki bisa mencapai lebih dari 40 km. Saya dan teman-teman GengGung berencana mendaki gunung Argopuro ini. Kami merencanakan pendakian ini dengan cukup matang karena ini adalah salah satu gunung utama di daftar pendakian kami. Tiga bulan sebelum keberangkatan kami sudah mulai persiapan pendakian. Persiapan awal adalah perencanaan logistik, perkiraan medan dan rencana perjalanan (itinerary). Sumber data untuk gunung Argopuro cukup banyak beredar di internet. Banyak catatan perjalanan dan track log GPS yang bisa digunakan sebagai referensi. Beberapa track log kami unduh dan kemudian dilihat di Google Earth. Dari situ dapat diperkirakan medan dan kontur yang akan kami lewati.

Ada 2 jalur yang banyak dilewati pendaki pada umumnya, yaitu jalur Baderan di Situbondo dan jalur Bremi di Probolinggo. Biasanya para pendaki naik lewat Baderan dan turun lewat Bremi untuk mendapatkan pengalaman jalur yang lengkap. Rencana perjalanan kami adalah perjalanan santai dan yang jadi kriteria utama adalah kami harus lintas jalur dan harus camp di Cikasur. Itinerary awal kami adalah 5 hari naik lewat Baderan dan turun lewat Bremi via jalur trabasan. Jalur trabasan ini adalah jalur baru yang bisa menghemat waktu sekitar 4 jam daripada lewat jalur lama. Di jalur Baderan ada beberapa pos yang bisa dijadikan tempat camp yaitu pos Mata Air 1, Mata Air 2, Cikasur, Cisentor, Rawa Embik, dan Pertigaan Puncak.

Peserta pendakian kali ini masih muka-muka lama yaitu saya, Om Lawe, Doni, Widia, Mbah Sandi, dan ada satu lagi teman mendaki baru, Ulin. Kebetulan ada satu rombongan lagi teman dari Mbah Sandi yang mendaki Argopuro di tanggal yang sama. Kami sepakat bertemu di pos Mata Air 2 nantinya.

Tiga hari sebelum mendaki kami menelepon salah satu petugas BKSDA Baderan untuk konfirmasi ketersediaan jalur pendakian. Beliau menginformasikan akan ada penanaman massal pada tanggal kami naik. Namun beliau mempersilahkan apabila ada yang akan naik.

Perjalanan kali ini adalah perjalanan terpanjang bagi sebagian besar dari kami. Logistik yang kami bawa pun tentunya semakin banyak karena persiapan untuk 5 hari perjalanan.

 Day 1 – 21 Januari 2014

Hari keberangkatan pendakian akhirnya tiba. Hari yang kami tunggu-tunggu begitu lama karena pendakian ini memang membuat kami bersemangat. Berlima kami berangkat menuju Probolinggo, di terminal Probolinggo kami akan bertemu dengan Ulin. Dari Malang kami naik bus ekonomi pukul 08.00. Ongkos bis Malang-Probolinggo Rp16.000 per orang. Perjalanan relatif lancar tanpa hambatan. Tiba di terminal Probolinggo pukul 11.00 kami bertemu dengan Ulin. Kemudian kami sarapan dulu di warung depan terminal. Setelah makan, kami lanjutkan perjalanan naik bus menuju Besuki. Dari Probolinggo menuju Besuki tarifnya Rp. 7.000 per orang. Karena saya jarang melakukan perjalanan ke daerah Jawa Timur bagian timur (tapal kuda), saya menikmati sekali perjalanan ini. Singkatnya kami turun di depan terminal Besuki. Kami menuju Indomaret yang ada di sekitar untuk melengkapi kebutuhan yang kurang. Untuk menuju basecamp Baderan, kami menyewa angkot disana. Alternatif lain adalah naik ojek. Karena kami jumlahnya cukup banyak, kami memilih sewa angkot. Setelah tawar menawar dengan sopirnya, akhirnya disepakati ongkosnya Rp. 150.000 sampai basecamp Baderan. Perjalanan menuju basecamp Baderan sekitar 1 jam dari terminal Besuki. Di perjalanan kesana, kami banyak melihat ladang jagung di kanan kiri kami. Suku Madura nampak menjadi mayoritas disini. Banyak juga pondok pesantren kecil di sepanjang jalan. Diselingi hujan rintik dan canda tawa di sepanjang jalan, kami akhirnya tiba di basecamp Baderan pukul 13.00.

Continue reading “Catper Gunung Argopuro : The Hidden Paradiso (21 – 26 Januari 2014)”

eBook Catatan Perjalanan : The Unexpected Sumbing


Ini adalah catatan perjalanan saya ke Gunung Sumbing. Rencana perjalanan awalnya adalah 2S (Sumbing dan Sindoro), namun karena ada banyak kejadian tak terduga akhirnya hanya bisa terlaksana mendaki Gunung Sumbing saja. Kejadian tak terduga ini benar-benar membuat kacau rencana kami. Itinerary tidak ada yang pas sesuai dengan pelaksanaannya. Tapi bukan hanya kejadian saja yang membuat pendakian ini layak disebut The Unexpected. Awalnya kami mengira pendakian ini akan menghasilkan view yang biasa-biasa saja. Kami tidak mengira bahwa pemandangan di Gunung Sumbing begitu mempesona.

Ini baru pertama kalinya saya membuat catatan perjalanan dalam bentuk eBook. Ukuran filenya tidak besar, hanya 2,9 mb. Hostingnya pun di wordpress jadi bisa langsung save as saja. Silahkan memberi feedback berupa masukan, kritik, koreksi, saran, dan lain-lain. Unduh catatan perjalanan ini, apabila ada yang butuh track log GPS silahkan email ke andiklukmanhakim@gmail.com

eBook Catper Sumbing

1 cover

 

 

Lawu 3.265 mdpl via Candi Cetho (7 – 10 Februari 2013) : Chapter II


Hari Ketiga (9 Februari 2013)

Gambar
Sarapan @Pos III
Gambar
Berdoa @Pos III

Pukul 06.00 kami sudah mulai bangun dan membereskan tenda. Sarapan pagi ini dengan krupuk dan tempe, cukup untuk mengganjal perut. Menurut info dari Mbah Sandi, diantara Pos V dan Pos VI ada sumber air. Tepatnya di daerah Tapak Menjangan, ada kubangan yang terisi ketika musim hujan.

Pukul 08.30 kami mulai berangkat menuju Pos IV. Trek masih sama seperti Pos II ke Pos III, nanjak terus. Di perjalanan ini kami diwanti-wanti oleh Mbah Sandi, sebelum sampai di Pos IV kami dilarang minum dulu. Persediaan air yang terbatas membuat kami menjilati embun di daun sepanjang perjalanan. Lumayan untuk membasahi tenggorokan. Pohon-pohon di perjalanan menuju Pos IV tampak hitam bekas kebakaran hutan. Mungkin karena itu juga air tidak mengalir dari atas. Pos IV dapat kami capai setelah menempuh perjalanan sekitar 60 menit. Haus dan lapar mulai melanda grup Kura. Dari sini, kami boleh minum dengan aturan setiap minum hanya satu shot tutup botol. Dan ternyata Yekti masih membawa satu kotak susu yang akhirnya dibagi. Rasa susu itu seperti air surga, nikmat sekali. Ditengah persediaan air yang menipis, masih ada susu ternyata.

Continue reading “Lawu 3.265 mdpl via Candi Cetho (7 – 10 Februari 2013) : Chapter II”

Lawu 3.265 mdpl via Candi Cetho (7 – 10 Februari 2013) : Chapter I


Liburan semester ganjil kemarin saya dan teman-teman mengisi waktu dengan naik ke puncak Gunung Lawu. Rencana perjalanan yang sebenarnya mendadak. Saya baru diajak berangkat ke Lawu pada H-2 pendakian. Rencana awal, peserta pendakian ada 7 orang, tapi kemudian dapet tambahan peserta. Mbah Sandi mengajak satu teman untuk ikut dalam pendakian. Sehingga jumlah peserta bertambah menjadi 8 orang. Yang diajak cewek pula. Hehe..

Daftar peserta adalah saya, Mbah Sandi, Lawe, Monster Jefri, Doni, Eko, Iman Saritem, dan Yekti.

Hari pertama (7 Februari 2013)

Kami berangkat dari Malang via Terminal Landungsari menuju Jombang. Di Jombang kami turun di depan stasiun kemudian lanjut pindah bis menuju Madiun. Ada enam orang yang berangkat bareng. Satu orang lagi (Eko) berangkat dari Pandaan via Surabaya, sedangkan satu orang lagi (Yekti) sudah menunggu di Madiun.

Awal perjalanan sudah seru. Di Terminal Landungsari, beberapa dari kami hampir ditinggal bis karena bis sudah waktunya berangkat sedangkan teman-teman masih menunaikan ibadah sholat Ashar. Lewat perjuangan keras berwujud lari mengejar bis, akhirnya bisa juga kami berenam bisa naik bis bareng. Dari Malang kami turun di Stasiun Jombang sekitar pukul 19.00 untuk ganti bis menuju Madiun. Ketika turun di Stasiun Jombang, salah seorang dari kami dompetnya hilang. Kecopetan. Sedih, tapi kejadian itu tidak menyurutkan niat kami untuk meneruskan perjalanan. Kami sampai di Terminal Purboyo Madiun sekitar pukul 21.00. Disana sudah ada beberapa teman dari Bramastya yang menjemput kami. Bramastya ini adalah organisasi pecinta alam dari SMA 2 Madiun.

Berkunjung ke Madiun belum sah kalau belum makan pecel. Madiun memang terkenal dengan pecel. Malam itu juga kami mencoba salah satu warung pecel yang populer. Letaknya di samping Carrefour Madiun, judul warungnya “Warung Mbokne Gito”. Nasi pecel ditambah dengan paru dan babat sungguh pas mengisi perut di malam hari. Setelah makan, kami ngopi dulu bersama teman-teman dari Bramastya hingga pukul 02.00. Kami menginap di rumah Mbah Sandi. Rencana awal, kami berangkat menuju basecamp untuk naik ke Lawu via Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar pukul 08.00.

………

Sementara itu, Eko yang sedang dalam perjalanan ke Madiun via Surabaya juga sedang apes. Bis yang ditumpanginya mogok di tengah jalan. Dia dan penumpang lain sampai harus mendorong bis tersebut hingga beberapa puluh meter. Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya Eko sampai juga di Madiun sekitar pukul 03.00

Hari Kedua (8 Februari 2013)

Gambar
Pose dulu sebelum berangkat ke Cetho @ Rumah Mbah Sandi

Rencana awal tidak berjalan dengan mulus. Kami baru berangkat dari Madiun menuju Cetho sekitar pukul 11.00 dengan mobil sewaan (Panther) seharga Rp500.000,00. Perjalanan yang bisa dibilang jauh. Dari Madiun kami menempuh sekitar 3,5 jam. Melewati perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah karena Karanganyar berada di Jawa Tengah. Panorama indah tersaji saat di Karanganyar. Memanjakan mata. Setelah perjalanan yang penuh dengan tanya kiri kanan karena tidak ada yang tahu jalan, akhirnya kami sampai juga di Cetho. Waktu menunjukkan pukul 14.30. Hal pertama yang kami lakukan adalah registrasi peserta. Biayanya murah, 24 ribu untuk 8 orang. Karena belum sempat sarapan, kami menyempatkan makan dulu di warung sekitar Candi Cetho. Mie goreng double plus telor rebus mengisi perut kami siang itu.

Dari 8 orang, 4 diantaranya baru pertama kali melakukan pendakian termasuk saya. Persiapan saya sangat tidak matang. Saya hanya membawa baju dan celana. Sleeping bag, matras, sarung tangan, sendal/sepatu gunung saya tidak punya. Saya hanya memakai sendal Alfamart. Jas hujan pun lupa saya bawa. Untung di warung tempat kami makan menjual jas hujan dari plastik seharga 5 ribuan. Sleeping bag dan matras pinjam ke teman-teman Bramastya.

Di Gunung Lawu terdapat tiga puncak yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Puncak tertinggi yaitu Hargo Dumilah dengan ketinggian 3.265 mdpl. Kami lewat jalur Candi Cetho dengan titik awal/basecamp yang berada di ketinggian sekitar 1.460 mdpl. Untuk menuju puncak, kami harus menempuh sekitar 1.800 meter vertikal. Ada 6 pos yang akan kami lewati nantinya.

Continue reading “Lawu 3.265 mdpl via Candi Cetho (7 – 10 Februari 2013) : Chapter I”