Catper Rakutak 1.957 mdpl (23 – 25 Oktober 2015)


header

peserta

Niat awalnya sih pemanasan sebelum naik ke Gunung Slamet tanggal 30 Oktober. Apalagi setelah sebulan tugas kemarin, perut langsung meledak buncit. Maka dicarilah gunung yang bisa dibuat pemanasan dan lokasinya dekat Jakarta. Rakutak akhirnya terpilih sebagai pemenang setelah pertimbangan yang cukup alot. Peserta kali ini bertiga yaitu saya, om Lawe dan Adi. Pendakian ini sekalian juga buat tes dua gear baru saya yaitu Osprey Talon 44 dan sepatu Hitec Altitude IV. Gara-gara di Ciremai ane pake Eiger Monte Rosa (hasil ganti carrier saya yang hilang) rasanya pedes banget di pundak akhirnya saya putuskan ganti carrier. Sempet khawatir si Emprit gak bisa dibawa jalan karena sampai hari Kamis (22/10) belum datang juga barangnya. Pas banget Jumat paginya nongol juga si Emprit. Siap mantap.

Saya dan om Lawe berangkat dari Jakarta Jumat (23/10) jam 21.30 dari Pool Primajasa UKI dengan tarif 75.000/orang. Nanti kami ketemuan dengan Adi di terminal Leuwipanjang. Perjalanan cukup lancar tanpa hambatan hingga kami sampai di terminal Leuwipanjang Bandung jam 01.00. Sampai di terminal, kami makan nasi goreng dan ngopi dulu di depan terminal. Awalnya kami ingin tidur dulu di musholla, tapi nggak jadi. Akhirnya kami menggelar matras dan tidur ngemper di ruang tunggu. Rasa capek membuat kami terlelap dengan cepat.

Jam 05.00 Adi sampe di terminal. Packing ulang, beres-beres, beli air dan kami ready to go. Jam 06.00 kami mulai perjalanan. Dari terminal Leuwipanjang kami naik angkot hingga perempatan dengan tarif 3.000/org. Kemudian naik elf jurusan Ciparay dengan ongkos 5.000/org. Perjalanan dari terminal Leuwipanjang ke Ciparay sekitar 1 jam. Sampai di Ciparay kami sarapan dulu di pasar, lalu naik angkot lagi ke desa Sukarame, lokasi Basecamp Rakutak. Ongkos angkot 3.000/orang. Kami turun di depan gapura lalu berjalan menuju basecamp. Lokasi basecamp cukup nyempil, harus bertanya dulu ke warga sekitar untuk sampai di basecamp. Pukul 08.00 akhirnya kami tiba di basecamp Himpala Rakutak. Kami bertemu dengan penjaga basecamp sekaligus Himpala Rakutak, Kang Agus. Dari hasil obrolan dengan Kang Agus kami baru tahu ternyata di Rakutak terdapat 3 jalur pendakian. Jalur yang dibuka sekarang adalah jalur 2, sedangkan jalur 1 dan 3 sedang dibenahi dan jarang digunakan sebagai jalur pendakian. Jalur 1 melewati Puncak 1 dan bertemu dengan jalur 2 di Puncak 2. Sedangkan jalur 3 bertemu dengan jalur 2 di Pos 1 (Warung).

IMG_20151024_081313
Adi ngobrol sama Kang Agus pake bahasa Sunda. Ane sama om Lawe melongo doang. Haha

Continue reading “Catper Rakutak 1.957 mdpl (23 – 25 Oktober 2015)”

Iklan

Catper Gunung Argopuro : The Hidden Paradiso (21 – 26 Januari 2014)


Argopuro - The Hidden Paradise

Argopuro berada di deretan pegunungan Hyang tepatnya di tiga kabupaten yaitu, Probolinggo, Jember dan Situbondo. Gunung Argopuro adalah gunung dengan trek terpanjang di pulau Jawa. Jarak yang ditempuh oleh pendaki bisa mencapai lebih dari 40 km. Saya dan teman-teman GengGung berencana mendaki gunung Argopuro ini. Kami merencanakan pendakian ini dengan cukup matang karena ini adalah salah satu gunung utama di daftar pendakian kami. Tiga bulan sebelum keberangkatan kami sudah mulai persiapan pendakian. Persiapan awal adalah perencanaan logistik, perkiraan medan dan rencana perjalanan (itinerary). Sumber data untuk gunung Argopuro cukup banyak beredar di internet. Banyak catatan perjalanan dan track log GPS yang bisa digunakan sebagai referensi. Beberapa track log kami unduh dan kemudian dilihat di Google Earth. Dari situ dapat diperkirakan medan dan kontur yang akan kami lewati.

Ada 2 jalur yang banyak dilewati pendaki pada umumnya, yaitu jalur Baderan di Situbondo dan jalur Bremi di Probolinggo. Biasanya para pendaki naik lewat Baderan dan turun lewat Bremi untuk mendapatkan pengalaman jalur yang lengkap. Rencana perjalanan kami adalah perjalanan santai dan yang jadi kriteria utama adalah kami harus lintas jalur dan harus camp di Cikasur. Itinerary awal kami adalah 5 hari naik lewat Baderan dan turun lewat Bremi via jalur trabasan. Jalur trabasan ini adalah jalur baru yang bisa menghemat waktu sekitar 4 jam daripada lewat jalur lama. Di jalur Baderan ada beberapa pos yang bisa dijadikan tempat camp yaitu pos Mata Air 1, Mata Air 2, Cikasur, Cisentor, Rawa Embik, dan Pertigaan Puncak.

Peserta pendakian kali ini masih muka-muka lama yaitu saya, Om Lawe, Doni, Widia, Mbah Sandi, dan ada satu lagi teman mendaki baru, Ulin. Kebetulan ada satu rombongan lagi teman dari Mbah Sandi yang mendaki Argopuro di tanggal yang sama. Kami sepakat bertemu di pos Mata Air 2 nantinya.

Tiga hari sebelum mendaki kami menelepon salah satu petugas BKSDA Baderan untuk konfirmasi ketersediaan jalur pendakian. Beliau menginformasikan akan ada penanaman massal pada tanggal kami naik. Namun beliau mempersilahkan apabila ada yang akan naik.

Perjalanan kali ini adalah perjalanan terpanjang bagi sebagian besar dari kami. Logistik yang kami bawa pun tentunya semakin banyak karena persiapan untuk 5 hari perjalanan.

 Day 1 – 21 Januari 2014

Hari keberangkatan pendakian akhirnya tiba. Hari yang kami tunggu-tunggu begitu lama karena pendakian ini memang membuat kami bersemangat. Berlima kami berangkat menuju Probolinggo, di terminal Probolinggo kami akan bertemu dengan Ulin. Dari Malang kami naik bus ekonomi pukul 08.00. Ongkos bis Malang-Probolinggo Rp16.000 per orang. Perjalanan relatif lancar tanpa hambatan. Tiba di terminal Probolinggo pukul 11.00 kami bertemu dengan Ulin. Kemudian kami sarapan dulu di warung depan terminal. Setelah makan, kami lanjutkan perjalanan naik bus menuju Besuki. Dari Probolinggo menuju Besuki tarifnya Rp. 7.000 per orang. Karena saya jarang melakukan perjalanan ke daerah Jawa Timur bagian timur (tapal kuda), saya menikmati sekali perjalanan ini. Singkatnya kami turun di depan terminal Besuki. Kami menuju Indomaret yang ada di sekitar untuk melengkapi kebutuhan yang kurang. Untuk menuju basecamp Baderan, kami menyewa angkot disana. Alternatif lain adalah naik ojek. Karena kami jumlahnya cukup banyak, kami memilih sewa angkot. Setelah tawar menawar dengan sopirnya, akhirnya disepakati ongkosnya Rp. 150.000 sampai basecamp Baderan. Perjalanan menuju basecamp Baderan sekitar 1 jam dari terminal Besuki. Di perjalanan kesana, kami banyak melihat ladang jagung di kanan kiri kami. Suku Madura nampak menjadi mayoritas disini. Banyak juga pondok pesantren kecil di sepanjang jalan. Diselingi hujan rintik dan canda tawa di sepanjang jalan, kami akhirnya tiba di basecamp Baderan pukul 13.00.

Continue reading “Catper Gunung Argopuro : The Hidden Paradiso (21 – 26 Januari 2014)”