Catper Gunung Arjuno 3.339 mdpl – Welirang 3.156 mdpl via Tretes (15-17 November 2013)


arjuno header

Intro

Akhir-akhir ini saya dan teman-teman kuliah sedang getol naik gunung. Dalam 6 bulan terakhir, sudah 8 kali saya naik gunung. Semuanya adalah gunung di Jawa Timur. Dimulai dari Semeru, Penanggungan, Panderman, hingga Buthak. Di setiap pendakian, deretan Arjuno-Welirang selalu terlihat gagah menjulang. Setelah sering melihat Arjuno-Welirang yang indah dari jauh, ada keinginan untuk melihatnya lebih dekat. Setelah sounding ke teman-teman, akhirnya terkumpul 8 peserta untuk berangkat ke Arjuno-Welirang, yaitu saya, Lawe, Doni, Jefri, Mbah, Widia, Juki, dan Iman. Doni dan Jefri sebelumnya sudah pernah ke Arjuno, dan Mbah sudah pernah ke Welirang. Awalnya saya ingin dapat 4 puncak sekaligus yaitu Welirang, Kembar I, Kembar II, dan Arjuno. Tetapi setelah dihitung dan diestimasi ulang, waktu yang tersedia tidak mencukupi. Akhirnya disepakati kami hanya akan ke Welirang dan Arjuno. Dan inilah cerita pendakian Arjuno-Welirang kami…

Continue reading “Catper Gunung Arjuno 3.339 mdpl – Welirang 3.156 mdpl via Tretes (15-17 November 2013)”

Lawu 3.265 mdpl via Candi Cetho (7 – 10 Februari 2013) : Chapter II


Hari Ketiga (9 Februari 2013)

Gambar
Sarapan @Pos III
Gambar
Berdoa @Pos III

Pukul 06.00 kami sudah mulai bangun dan membereskan tenda. Sarapan pagi ini dengan krupuk dan tempe, cukup untuk mengganjal perut. Menurut info dari Mbah Sandi, diantara Pos V dan Pos VI ada sumber air. Tepatnya di daerah Tapak Menjangan, ada kubangan yang terisi ketika musim hujan.

Pukul 08.30 kami mulai berangkat menuju Pos IV. Trek masih sama seperti Pos II ke Pos III, nanjak terus. Di perjalanan ini kami diwanti-wanti oleh Mbah Sandi, sebelum sampai di Pos IV kami dilarang minum dulu. Persediaan air yang terbatas membuat kami menjilati embun di daun sepanjang perjalanan. Lumayan untuk membasahi tenggorokan. Pohon-pohon di perjalanan menuju Pos IV tampak hitam bekas kebakaran hutan. Mungkin karena itu juga air tidak mengalir dari atas. Pos IV dapat kami capai setelah menempuh perjalanan sekitar 60 menit. Haus dan lapar mulai melanda grup Kura. Dari sini, kami boleh minum dengan aturan setiap minum hanya satu shot tutup botol. Dan ternyata Yekti masih membawa satu kotak susu yang akhirnya dibagi. Rasa susu itu seperti air surga, nikmat sekali. Ditengah persediaan air yang menipis, masih ada susu ternyata.

Continue reading “Lawu 3.265 mdpl via Candi Cetho (7 – 10 Februari 2013) : Chapter II”

Lawu 3.265 mdpl via Candi Cetho (7 – 10 Februari 2013) : Chapter I


Liburan semester ganjil kemarin saya dan teman-teman mengisi waktu dengan naik ke puncak Gunung Lawu. Rencana perjalanan yang sebenarnya mendadak. Saya baru diajak berangkat ke Lawu pada H-2 pendakian. Rencana awal, peserta pendakian ada 7 orang, tapi kemudian dapet tambahan peserta. Mbah Sandi mengajak satu teman untuk ikut dalam pendakian. Sehingga jumlah peserta bertambah menjadi 8 orang. Yang diajak cewek pula. Hehe..

Daftar peserta adalah saya, Mbah Sandi, Lawe, Monster Jefri, Doni, Eko, Iman Saritem, dan Yekti.

Hari pertama (7 Februari 2013)

Kami berangkat dari Malang via Terminal Landungsari menuju Jombang. Di Jombang kami turun di depan stasiun kemudian lanjut pindah bis menuju Madiun. Ada enam orang yang berangkat bareng. Satu orang lagi (Eko) berangkat dari Pandaan via Surabaya, sedangkan satu orang lagi (Yekti) sudah menunggu di Madiun.

Awal perjalanan sudah seru. Di Terminal Landungsari, beberapa dari kami hampir ditinggal bis karena bis sudah waktunya berangkat sedangkan teman-teman masih menunaikan ibadah sholat Ashar. Lewat perjuangan keras berwujud lari mengejar bis, akhirnya bisa juga kami berenam bisa naik bis bareng. Dari Malang kami turun di Stasiun Jombang sekitar pukul 19.00 untuk ganti bis menuju Madiun. Ketika turun di Stasiun Jombang, salah seorang dari kami dompetnya hilang. Kecopetan. Sedih, tapi kejadian itu tidak menyurutkan niat kami untuk meneruskan perjalanan. Kami sampai di Terminal Purboyo Madiun sekitar pukul 21.00. Disana sudah ada beberapa teman dari Bramastya yang menjemput kami. Bramastya ini adalah organisasi pecinta alam dari SMA 2 Madiun.

Berkunjung ke Madiun belum sah kalau belum makan pecel. Madiun memang terkenal dengan pecel. Malam itu juga kami mencoba salah satu warung pecel yang populer. Letaknya di samping Carrefour Madiun, judul warungnya “Warung Mbokne Gito”. Nasi pecel ditambah dengan paru dan babat sungguh pas mengisi perut di malam hari. Setelah makan, kami ngopi dulu bersama teman-teman dari Bramastya hingga pukul 02.00. Kami menginap di rumah Mbah Sandi. Rencana awal, kami berangkat menuju basecamp untuk naik ke Lawu via Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar pukul 08.00.

………

Sementara itu, Eko yang sedang dalam perjalanan ke Madiun via Surabaya juga sedang apes. Bis yang ditumpanginya mogok di tengah jalan. Dia dan penumpang lain sampai harus mendorong bis tersebut hingga beberapa puluh meter. Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya Eko sampai juga di Madiun sekitar pukul 03.00

Hari Kedua (8 Februari 2013)

Gambar
Pose dulu sebelum berangkat ke Cetho @ Rumah Mbah Sandi

Rencana awal tidak berjalan dengan mulus. Kami baru berangkat dari Madiun menuju Cetho sekitar pukul 11.00 dengan mobil sewaan (Panther) seharga Rp500.000,00. Perjalanan yang bisa dibilang jauh. Dari Madiun kami menempuh sekitar 3,5 jam. Melewati perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah karena Karanganyar berada di Jawa Tengah. Panorama indah tersaji saat di Karanganyar. Memanjakan mata. Setelah perjalanan yang penuh dengan tanya kiri kanan karena tidak ada yang tahu jalan, akhirnya kami sampai juga di Cetho. Waktu menunjukkan pukul 14.30. Hal pertama yang kami lakukan adalah registrasi peserta. Biayanya murah, 24 ribu untuk 8 orang. Karena belum sempat sarapan, kami menyempatkan makan dulu di warung sekitar Candi Cetho. Mie goreng double plus telor rebus mengisi perut kami siang itu.

Dari 8 orang, 4 diantaranya baru pertama kali melakukan pendakian termasuk saya. Persiapan saya sangat tidak matang. Saya hanya membawa baju dan celana. Sleeping bag, matras, sarung tangan, sendal/sepatu gunung saya tidak punya. Saya hanya memakai sendal Alfamart. Jas hujan pun lupa saya bawa. Untung di warung tempat kami makan menjual jas hujan dari plastik seharga 5 ribuan. Sleeping bag dan matras pinjam ke teman-teman Bramastya.

Di Gunung Lawu terdapat tiga puncak yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Puncak tertinggi yaitu Hargo Dumilah dengan ketinggian 3.265 mdpl. Kami lewat jalur Candi Cetho dengan titik awal/basecamp yang berada di ketinggian sekitar 1.460 mdpl. Untuk menuju puncak, kami harus menempuh sekitar 1.800 meter vertikal. Ada 6 pos yang akan kami lewati nantinya.

Continue reading “Lawu 3.265 mdpl via Candi Cetho (7 – 10 Februari 2013) : Chapter I”

Belinyu: Tanjung Penyusuk dan Pantai Romodong


Hari ibur Natal sepanjang tiga hari kemarin saya manfaatkan untuk pergi tamasya (jiah, bahasanya) ke Belinyu, tepatnya ke Tanjung Penyusuk dan Pantai Romodong. Belinyu masih termasuk dalam kawasan Kabupaten Bangka. Letaknya yang cukup jauh dari Sungailiat, ibukota Kab. Bangka, membuat adanya wacana akan dibentuk Kabupaten baru yaitu Bangka Utara dengan Belinyu sebagai ibukotanya. Perjalanan ke Belinyu bisa ditempuh dengan jalan darat dengan waktu tempuh kurang lebih 2 sampai 3 jam dari Kota Pangkalpinang. Lokasi Tanjung Penyusuk dan Pantai Romodong sendiri dekat dengan lokasi pelabuhan tempat saya menyeberang ke Pulau Nanas. (Lihat tulisan saya A Journey to Pineapple Island).

Hari Minggu, 25 Desember 2011 saya dan 8 orang teman kantor berangkat ke Belinyu dengan menggunakan mobil Avanza. Bisa dibayangkan bagaiman uyel uyelannya di dalam mobil yang disesaki 9 orang dengan beberapa orang bertubuh jumbo. Piss Mbak Citra, Pret dan Aris :D. Dari Pangkalpinang kami berangkat pukul 11.30. Setelah istirahat untuk makan dan sholat dhuhur di Sungailiat, akhirnya kami sampai di Tanjung Penyusuk pukul 14.00. Ternyata disana sedang ramai pengunjung, wajar sih karena sedang liburan. Ditambah lagi cuaca sedang tidak bersahabat dan air laut yang kotor tercemar limbah timah, kenikmatan dalam menikmati indahnya Tanjung Penyusuk terasa kurang nikmat (banyak amat kata nikmat??). Tanjung Penyusuk terkenal dengan batu batuan vulkanik besar yang tersebar di sepanjang pantai. Kalau anda pernah menyaksikan film Laskar Pelangi seperti itulah batu batu besar di pantai yang saya maksud. Saya hanya bisa mengagumi pemandangan ini. Lanskap yang indah membuat saya betah sekali berada disana. Duduk di atas batu dan merasakan angin laut menjadi obat penghilang beban. Rasanya bebas sekali. Selain batu vulkaniknya, Tanjung Penyusuk juga terkenal dengan adanya mercusuar yang ada di Pulau Lampu, pulau di dekat Tanjung Penyusuk. Kami tidak sempat ke Pulau Lampu karena sudah terlalu sore dan cuaca yang mendung.

Tanjung Penyusuk

Continue reading “Belinyu: Tanjung Penyusuk dan Pantai Romodong”

Nasionalisme dan Badminton


Nasionalisme itu ada di hati.

Nasionalisme itu sudah dipupuk sedari kecil.

Taufik Hidayat, salah satu penerus Tradisi Emas Indonesia di Olimpiade Athena 2004

Di pertengahan dekade 90-an, rasanya hampir setiap desa di Indonesia memiliki lapangan badminton dengan jumlah lebih dari satu. Lapangan badminton seperti menjadi sarana yang wajib ada, setidaknya ada satu di setiap kampung. Aneh rasanya bila ada kampung tidak memiliki lapangan badminton, ada yang kurang. Kebanyakan adalah lapangan outdoor. Lapangan tanah, bukan karpet, dengan pembatas garis yang terbuat dari batu bata ditanam dan disusun dengan rapi. Penerangan juga seadanya, biasanya ada 2 lampu di bagian tengah atas lapangan. Tak jadi soal, pertandingan badminton antar kampung masih sering digelar. Sekedar melepas penat, menyalurkan hobi dan silaturahmi antar kampung.

Saya pun sempat berpikir, adakah orang Indonesia yang tidak pernah bermain badminton? kalaupun ada, saya kira persentasenya kecil sekali. Setidaknya pernah memegang raket badminton. Begitu populer olahraga ini di Indonesia.

Bulutangkis atau badminton, olahraga yang tidak terlalu populer di dunia. Bahkan baru dipertandingkan di Olimpiade sejak tahun 1992. Tahukah anda apa yang terjadi di Olimpiade Barcelona 1992? Indonesia meraih emas!!. Emas pertama dan kedua Indonesia diraih oleh Alan Budikusuma dan Susi Susanti, dua pebulutangkis top tanah air. Indonesia Raya berkumandang, Merah Putih berkibar diatas bendera negara lain. Indonesia berada di puncak. Sesuatu yang mungkin hanya menjadi impian, bahkan sampai sekarang apabila bulutangkis tidak dipertandingkan di Olimpiade. Dan pada perhelatan selanjutnya hingga kini, bulutangkis selalu menyumbangkan medali emas di Olimpiade. Biasa disebut sebagai Tradisi Emas. Bulutangkis, olahraga paling membanggakan di negeri ini.

Tak bisa dipungkiri, olahraga paling populer saat ini adalah sepakbola. Tapi badminton, selalu mempunyai tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Indonesia membanggakan di pentas dunia. Berkali-kali pemain Indonesia menjadi juara dunia. Indonesia adalah salah satu kekuatan dunia badminton bersama China, Denmark, Malaysia, dan Korea Selatan.

Continue reading “Nasionalisme dan Badminton”

BIANCONERI


BIANCONERI 180 degrees rotational ambigram

Tanggal 1 November 2011 kemarin, Juventus merayakan hari jadi yang ke 114. Untuk merayakannya, Juventus Club Indonesia (JCI) di twitter (@JCIndonesia) mengadakan kontes artwork yang bertema #114Juventus. Iseng coba-coba ikutan bikin artwork berkonsep ambigram. Dan hasilnya masih belum menang. Haha. Ambigram ini sendiri bertuliskan BIANCONERI dengan tipe 180 degrees rotational ambigram. Biarpun masih belum menang, tapi saya senang bisa ikut berpartisipasi di ultah Juventus yang ke 114 ini. Forza Juve!!

Artwork yang masuk bisa dilihat di fanpage JCIndonesia –> Juventus Club Indonesia

Pangkalpinang, 4 November 2011