Catper Gunung Argopuro : The Hidden Paradiso (21 – 26 Januari 2014)


Argopuro - The Hidden Paradise

Argopuro berada di deretan pegunungan Hyang tepatnya di tiga kabupaten yaitu, Probolinggo, Jember dan Situbondo. Gunung Argopuro adalah gunung dengan trek terpanjang di pulau Jawa. Jarak yang ditempuh oleh pendaki bisa mencapai lebih dari 40 km. Saya dan teman-teman GengGung berencana mendaki gunung Argopuro ini. Kami merencanakan pendakian ini dengan cukup matang karena ini adalah salah satu gunung utama di daftar pendakian kami. Tiga bulan sebelum keberangkatan kami sudah mulai persiapan pendakian. Persiapan awal adalah perencanaan logistik, perkiraan medan dan rencana perjalanan (itinerary). Sumber data untuk gunung Argopuro cukup banyak beredar di internet. Banyak catatan perjalanan dan track log GPS yang bisa digunakan sebagai referensi. Beberapa track log kami unduh dan kemudian dilihat di Google Earth. Dari situ dapat diperkirakan medan dan kontur yang akan kami lewati.

Ada 2 jalur yang banyak dilewati pendaki pada umumnya, yaitu jalur Baderan di Situbondo dan jalur Bremi di Probolinggo. Biasanya para pendaki naik lewat Baderan dan turun lewat Bremi untuk mendapatkan pengalaman jalur yang lengkap. Rencana perjalanan kami adalah perjalanan santai dan yang jadi kriteria utama adalah kami harus lintas jalur dan harus camp di Cikasur. Itinerary awal kami adalah 5 hari naik lewat Baderan dan turun lewat Bremi via jalur trabasan. Jalur trabasan ini adalah jalur baru yang bisa menghemat waktu sekitar 4 jam daripada lewat jalur lama. Di jalur Baderan ada beberapa pos yang bisa dijadikan tempat camp yaitu pos Mata Air 1, Mata Air 2, Cikasur, Cisentor, Rawa Embik, dan Pertigaan Puncak.

Peserta pendakian kali ini masih muka-muka lama yaitu saya, Om Lawe, Doni, Widia, Mbah Sandi, dan ada satu lagi teman mendaki baru, Ulin. Kebetulan ada satu rombongan lagi teman dari Mbah Sandi yang mendaki Argopuro di tanggal yang sama. Kami sepakat bertemu di pos Mata Air 2 nantinya.

Tiga hari sebelum mendaki kami menelepon salah satu petugas BKSDA Baderan untuk konfirmasi ketersediaan jalur pendakian. Beliau menginformasikan akan ada penanaman massal pada tanggal kami naik. Namun beliau mempersilahkan apabila ada yang akan naik.

Perjalanan kali ini adalah perjalanan terpanjang bagi sebagian besar dari kami. Logistik yang kami bawa pun tentunya semakin banyak karena persiapan untuk 5 hari perjalanan.

 Day 1 – 21 Januari 2014

Hari keberangkatan pendakian akhirnya tiba. Hari yang kami tunggu-tunggu begitu lama karena pendakian ini memang membuat kami bersemangat. Berlima kami berangkat menuju Probolinggo, di terminal Probolinggo kami akan bertemu dengan Ulin. Dari Malang kami naik bus ekonomi pukul 08.00. Ongkos bis Malang-Probolinggo Rp16.000 per orang. Perjalanan relatif lancar tanpa hambatan. Tiba di terminal Probolinggo pukul 11.00 kami bertemu dengan Ulin. Kemudian kami sarapan dulu di warung depan terminal. Setelah makan, kami lanjutkan perjalanan naik bus menuju Besuki. Dari Probolinggo menuju Besuki tarifnya Rp. 7.000 per orang. Karena saya jarang melakukan perjalanan ke daerah Jawa Timur bagian timur (tapal kuda), saya menikmati sekali perjalanan ini. Singkatnya kami turun di depan terminal Besuki. Kami menuju Indomaret yang ada di sekitar untuk melengkapi kebutuhan yang kurang. Untuk menuju basecamp Baderan, kami menyewa angkot disana. Alternatif lain adalah naik ojek. Karena kami jumlahnya cukup banyak, kami memilih sewa angkot. Setelah tawar menawar dengan sopirnya, akhirnya disepakati ongkosnya Rp. 150.000 sampai basecamp Baderan. Perjalanan menuju basecamp Baderan sekitar 1 jam dari terminal Besuki. Di perjalanan kesana, kami banyak melihat ladang jagung di kanan kiri kami. Suku Madura nampak menjadi mayoritas disini. Banyak juga pondok pesantren kecil di sepanjang jalan. Diselingi hujan rintik dan canda tawa di sepanjang jalan, kami akhirnya tiba di basecamp Baderan pukul 13.00.

IMG_20140101_215516
BKSDA Baderan
Mobil patroli
Mobil polisi hutan

Sampai disana, kantor BKSDA Baderan sedang tutup karena petugas sedang naik semua untuk penanaman. Kami bertemu pendaki yang baru turun dan sedang istirahat di basecamp. Kami menyempatkan makan di warung sebelah. Hujan kemudian turun, kami berniat menunggu hujan reda dulu kemudian berangkat. Ibu pemilik warung baik sekali, kami disuguhi ubi rebus sepiring penuh. Hujan semakin deras dan waktu semakin sore. Akhirnya diputuskan untuk tetap berangkat mengingat target hari ini adalah sampai di pos Mata Air 1. Pukul 14.40 kami mulai melakukan pendakian. Dari enam orang rombongan kami, hanya Mbah Sandi yang sudah pernah ke Argopuro. Trek awal adalah trek berupa jalan makadam (batu dan tanah). Hujan membuat carrier kami menjadi semakin berat. Kami kemudian packing ulang untuk meringankan beban. Sampai sekitar setengah perjalanan relatif lancar hingga kami sampai di batas jalan makadam. Trek berubah menjadi tanah yang membentuk huruf “V” karena merupakan jalur air (dan jalur motor). Trek ini sedikit menyulitkan kami untuk berjalan dengan santai. Hari sudah berubah menjadi gelap. Namun tanda-tanda adanya pos Mata Air 1 belum kelihatan. Kami break sebentar di tengah perjalanan. Sekedar memasak air bikin Energen untuk memulihkan tenaga yang terkuras. Hujan saat itu sedikit reda, hanya tinggal rintik kecil saja.

Tak lama kemudian kami lanjut perjalanan. Hujan kembali turun dengan derasnya. Raincoat dan rain cover tidak mampu membendung derasnya air hujan yang turun. Baju kami basah dan carrier menjadi semakin berat karena basah. Udara semakin dingin akibat hujan. Om Lawe berkali-kali hampir kram (dan sempat kram) di perjalanan malam ini. Kondisi fisik sudah turun hingga hampir batas. Trek masih menanjak terus dan jalur masih berbentuk huruf “V”. Akhirnya setelah 8 jam berjalan kami sampai di pos pertama, Mata Air 1 sekitar pukul 20.00.

Di pos ini sudah ada tenda yang berdiri, ada rombongan pendaki lain selain kami. Kami segera mendirikan tenda di tengah guyuran hujan dan angin kencang. Air cukup banyak menggenang sehingga harus dibuat parit di sekitar tenda. Tak lama setelah tenda berdiri, kami segera berganti pakaian karena pakaian sudah basah semua. Yang ada di pikiran kami semua adalah malam ini istirahat dan merebahkan badan. Ada kejadian lucu yang membuat saya menjerit-jerit di tenda, ada tikus masuk ke dalam tenda. Saya yang trauma terhadap tikus menjerit-jerit tidak karuan. Dan yang lebih memalukan lagi, yang berhasil menangkap tikus adalah dua cewek di rombongan kami, Widia dan Ulin. Oh, what a shame.

Malam harinya angin bertiup kencang sekali hingga tenda sempat bergoyang-goyang. Hujan juga semakin deras dan air sempat merembes masuk ke dalam tenda.

Rekap Day 1

08.00 – 11.00              Malang – Probolinggo

11.00 – 12.00              Probolingo – Terminal Besuki

12.00 – 13.00              Terminal Besuki – Basecamp Baderan

13.30 – 14.40              Istirahat di Basecamp Baderan

14.40 – 21.30              Basecamp Baderan – Pos Mata Air 1

21.00 – pagi                Camp

 Day 2 – 22 Januari 2014

Hari kedua diawali dengan bangun agak siang. Hujan sudah reda, namun dinginnya masih terasa. Saya dan Doni turun ke mata air untuk mengisi kembali perbekalan air yang sudah berkurang. Untuk menuju mata air tidak terlalu jauh, sekitar lima menit berjalan. Aliran airnya tidak terlalu deras namun cukup bersih dan jernih. Pemandangan di pos Mata Air 1 saat pagi hari sangat memanjakan mata. Di kejauhan terlihat tiga air terjun yang mengalir menuruni tebing. Dan kami beruntung karena cuaca cerah pagi itu. Kami menjemur pakaian, memasak sarapan, dan packing untuk lanjut perjalanan. Saat beres-beres tenda, banyak cacing besar berkeliaran di bawah tenda. Pukul 11.30 kami mulai melanjutkan pendakian. Target hari ini adalah sampai di Cikasur.

Foto keluarga di pos Mata Air 1
Foto keluarga di pos Mata Air 1
Air di pos Mata Air 1
Mengambil air di pos Mata Air 1

Trek awal perjalanan dari pos Mata Air 1 masih sama seperti sebelumnya, jalur tanah berbentuk huruf “V”. Namun kali ini tidak begitu licin dan karena cerah. Di beberapa spot terdapat gumpalan cacing yang banyak sekali karena terbawa aliran air dan menumpuk. Setelah berjalan sekitar 90 menit, kami akhirnya sampai di batas Pegunungan Hyang. Trek relatif landai dan tidak begitu curam. Setelah istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan lagi. Setelah kurang lebih 1 jam berjalan, pukul 13.50 kami sampai di pos Mata Air 2. Disana sudah sangat ramai oleh manusia. Para pendaki yang sedang melakukan penanaman masih berada disana. Kami bertemu dengan satu rombongan lagi teman dari Mbah Sandi. Dari sini kami akan mendaki bersama rombongan ini sehingga perjalanan kami berlanjut dengan jumlah 12 orang. Hujan mulai turun.

Di pos Mata Air 2 kami bertemu dengan Kepala BKSDA Baderan, Pak Susiono. Dan beliau mengagetkan kami semua dengan keputusannya yang menutup sementara pendakian. Penutupan ini karena semalam angin kencang dan dikhawatirkan akan terjadi cuaca buruk beberapa hari ke depan. Kami sempat kecewa dengan keputusan ini, mengingat kami sudah mempersiapkan pendakian ini begitu lama, rasanya sayang kalau hanya sampai pos Mata Air 2 dan kembali turun. Setelah berdiskusi, akhirnya kami membuat rencana untuk mengelabui petugas. Karena menurut kami cuaca saat itu masih belum dikategorikan cuaca buruk, sehingga masih memungkinkan untuk melanjutkan pendakian. Peringatan!! Jangan ditiru!! 😀

Para petugas dan pendaki yang melakukan penanaman akan turun besok pagi. Rencananya saat itu kami akan sembunyi sebentar dari jalur dan menunggu semua turun. Setelah itu kami baru melanjutkan pendakian. Garis besar rencananya adalah seperti itu. Setelah tersusun rencana, kami pamit ke Pak Susiono untuk camp di bawah pos Mata Air 2.

Dan target hari ini untuk sampai Cikasur pun tidak tercapai. Kami camp di tanah yang cukup datar di dekat pos Mata Air 2. Malamnya kami deg-degan menanti apakah rencana besok bisa berhasil. Hujan kembali turun malam ini, namun tidak disertai angin kencang.

Rekap Day 2

Pagi – 11.30                Sarapan, packing, dan persiapan

11.30 – 13.00              Pos Mata Air 1 – Batas Pegunungan Hyang

13.00 – 13.50              Batas Pegunungan Hyang – Pos Mata Air 2

13.50 – pagi                Camp

 Day 3 – 23 Januari 2014

Hari ini kami bangun cukup pagi. Kami segera memasak sarapan dan beres-beres tenda. Menu hari ini adalah rawon. Menu yang cukup mewah untuk ukuran makan di gunung. Chef Widia dan Ulin kembali membuktikan kehandalannya. Setelah kami selesai sarapan dan sudah siap, kami segera menghubungi rombongan yang di atas bahwa kami sudah siap untuk menjalankan rencana. Kami kemudian mencari tempat persembunyian. Tempat yang kami temukan untuk sembunyi tidak begitu jauh dari jalur namun cukup tertutup dan tentunya tidak terlihat. Saat itu pukul 09.00. Tak berapa lama kemudian datang beberapa orang dari rombongan atas, ada Tyas, Pundy, Papek, Danan dan Sidik. Sementara satu lagi, Mbah Yoga, akan menyusul belakangan sembari melihat kondisi dan situasi.

Sayup-sayup kami mulai mendengar langkah orang turun. Kami yang berada di tempat persembunyian hanya bisa terdiam, sesekali kami bercanda dengan berbisik. Beberapa orang mulai mencari kesibukan sendiri-sendiri untuk membunuh waktu. Tiga jam kami berada dalam kondisi seperti itu. Hujan kembali turun disertai kabut. Udara yang dingin semakin terasa karena kami hanya diam tidak bergerak. Akhirnya Mbah Yoga yang ditunggu-tunggu pun datang. Situasi saat itu ternyata diluar dugaan kami. Masih ada beberapa orang yang berada di pos Mata Air 2. Akhirnya diputuskan kami akan tetap melanjutkan pendakian dengan memutari pos Mata Air 2. Jalurnya akan kami buat sendiri dengan mengandalkan GPS.

Beberapa puluh meter sebelum pos Mata Air 2, kami mulai turun ke luar jalur. Setelahnya kami terus mengendap-ngendap dan diam. Cukup lama kami berjalan seperti itu. Berjalan jongkok dengan beban bawaan yang berat. Namun tekad untuk terus melanjutkan pendakian membuat kami lebih semangat. Setelah mengendap-ngendap sekitar satu jam, akhirnya kami sampai di jalur lagi. Tepatnya sekitar 100 meter di atas pos Mata Air 2. Selepas itu kami mulai berjalan normal lagi. Trek selepas pos Mata Air 2 sungguh menyenangkan bagi kami. Jalur tidak lagi berbentuk “V” dan elevasinya bisa dikategorikan landai dan datar. Sekitar pukul 13.40 kami sampai di Alun-alun Kecil. Sayang sekali cuaca saat itu tidak bersahabat. Kabut tebal dan hujan yang turun dengan derasnya sedari tadi menutupi indahnya pemandangan alun-alun kecil. Kami tidak berhenti disini dan terus melanjutkan perjalanan. Target hari ini adalah sampai di Cikasur dan bermalam disana.

Alun-Alun Besar
Alun-Alun Besar
Alun-Alun Besar
Alun-Alun Besar

Satu jam kemudian, sekitar pukul 15.00 kami sampai di Alun-Alun Besar. Disana kami beristirahat dan berfoto-foto. Kebetulan cuaca sempat membaik. Tak lama beristirahat, kami segera melanjutkan perjalanan. Pukul 16.10 kami sampai di Sungai Kolbu, Cikasur. Disini kami berhenti cukup lama. Kami panen selada air untuk dijadikan sayur pecel, mandi, dan mengisi air. Hujan sudah mulai reda, namun mendung masih bergelayut di atap bumi. Di sungai inilah saya untuk pertama kalinya menyentuh daun jancukan atau jelatang. Daun yang otomatis membuat yang tersentuh misuh-misuh karena panas menyengat. Di hari-hari berikutnya, kami akan semakin terbiasa dengan daun jancukan ini. Merak sempat terlihat sesaat sebelum kami memasuki Sungai Kolbu. Beberapa kawanan merak telihat sedang mencari minum. Kapan lagi bisa melihat merak di alam bebas selain disini?

Ketika kami sedang mandi, tiba-tiba datang satu orang pendaki dengan hanya memakai sendal jepit. Awalnya kami mengira dia adalah tim penyapu (sweeper) dari petugas. Tapi ternyata dia adalah pendaki yang juga naik dengan mengelabui petugas, dan untungnya dia kenal dengan tim penyapu yang sedang berada di pos Mata Air 2 sehingga bisa lewat dengan lancar. Pukul 17.00 kami berempat (saya, Doni, Widia, dan om Lawe) mulai mendirikan tenda di bekas reruntuhan bangunan di Cikasur. Kami memilih tempat di dekat bekas bangunan pos Cikasur berdiri. Tak berapa lama Ulin datang, dan meninggalkan Mbah Sandi sendirian di Sungai Kolbu. Mbah Sandi katanya sedang mencuci tenda. Hujan mulai turun lagi, untungnya tenda sudah berdiri dengan tegap. Sampai hari gelap belum ada tanda-tanda Mbah Sandi datang. Kami mulai khawatir, kemudian sayup-sayup terdengar suara Mbah Sandi memanggil Om Lawe. Segera Om Lawe menjemput ke arah datangnya suara. Ternyata Mbah Sandi saat itu mengalami hipotermia ringan. Badannya menggigil namun masih sadar. Kami segera memberikan makanan dan minuman hangat serta menyuruh Mbah Sandi berganti pakaian. Perlahan kondisi Mbah Sandi mulai membaik. Kami semua tidak menyangka Mbah Sandi yang kami anggap expert bisa sampai hipotermia. Untungnya saat itu masih belum parah dan masih bisa berjalan hingga sampai tenda.

Panen selada air
Panen selada air
Mandi
Mandi
Jancukan yang njancuki
Jancukan yang njancuki

Setelah Maghrib kami sudah selesai memasak nasi dan menu makan malam. Hujan di luar masih sangat deras. Bahkan air sempat merembes ke dalam tenda. Selesai makan kami segera tidur untuk mengistirahatkan badan.

Rekap Day 3

Pagi – 09.00                Sarapan, packing, dan persiapan

09.00 – 11.00              Sembunyi di jalur

11.00 – 13.40              Pos Mata Air 2 – Alun Alun Kecil

13.40 – 15.00              Alun Alun Kecil – Alun Alun Besar

15.00 – 16.10              Alun Alun Besar – Sungai Kolbu

16.10 – 17.00              Mandi di Sungai Kolbu – Cikasur

17.00 – pagi                Camp

 Day 4 – 24 Januari 2014

Setelah semalam hujan deras, pagi ini kami disambut dengan matahari yang bersinar cerah. Segera kami semua menjemur pakaian dan sepatu yang basah. Sabana luas Cikasur berubah menjadi padang jemuran. Panas matahari yang terhitung jarang kami dapat di pendakian kali ini membuat kami senang sekali dapat menikmati cuaca cerah di Cikasur. Sesi foto-foto tak ketinggalan disini. Cikasur dulunya adalah bandara Belanda di jaman penjajahan. Pondasi-pondasi yang ada disini juga peninggalan jaman Belanda. Pohon yang berada di depan kami seolah menjadi trademark dari Cikasur. Pukul 12.00 kami sudah bersiap untuk perjalanan hari ini. Target hari ini adalah sampai di pos Rawa Embik dan camp disana. Dari Cikasur kami lewat jalur di tengah mengikuti patok kayu berwarna putih. Patok kayu ini adalah penanda jarak di pegunungan Hyang. Patok kayu ini berjarak sekitar masing-masing 50m tiap patok. Perjalanan dari Cikasur cukup lancar. Trek bisa dikategorikan sangat landai. Hampir tidak ada tanjakan berarti. Pemandangan di sekitar jalur juga sangat memanjakan mata. Bunga-bunga bertebaran di samping jalur. Hingga kemudian kami memasuki hutan. Kami harus bertemu lagi dengan daun jancukan di kanan kiri jalur.

Pohon Cikasur
Pohon Cikasur
Menjemur pakaian
Menjemur pakaian
DSCN1566
Siap berangkat menuju Rawa Embik

Setelah berjalan 2,5 jam, pada pukul 14.30 kami akhirnya sampai di sungai Cisentor. Kami turun menyeberang sungai dan beristirahat dulu di pos ini. Berbeda dengan Cikasur, bangunan pos di Cisentor ini masih berdiri tegap. Snack kami keluarkan dan ngobrol-ngobrol sebentar sebelum lanjut ke Rawa Embik. Pukul 14.40 kami melanjutkan perjalanan. Trek mulai menanjak dan vegetasi terbuka. Perjalanan kami lalui dengan cukup lancar hingga kami bertemu dengan sebuah sabana kecil. Pohon-pohon edelweis bertebaran di samping jalur. Kemudian jalur berubah menjadi menanjak menaiki bukit. Bukit ini penuh dengan pohon edelweis. Di balik bukit ini akhirnya kami sampai di pos Rawa Embik pukul 16.00.

Pos Cisentor
Pos Cisentor
Suasana dalam pos Cisentor
Suasana dalam pos Cisentor
Istirahat di Cisentor
Istirahat di Cisentor

Pos Rawa Embik cukup luas dan bisa dipakai untuk mendirikan tenda. Disini terdapat sungai kecil namun aliran airnya cukup deras. Airnya jernih sekali dan berada langsung disamping tenda. Kami segera memilih tempat untuk mendirikan tenda. Hari ini adalah perjalanan paling enak dan santai dari 6 hari perjalanan kami. Tenaga tidak terkuras banyak dan trek juga sangat nyaman. Kami semua sepakat dengan hal ini.

Malam hari kami lalui dengan bersenda gurau di dalam tenda. Hujan kembali mengguyur kami, namun tidak begitu deras dan air tidak sampai merembes ke dalam tenda. Kami harus istirahat cukup malam ini karena perjalanan besok akan banyak menguras tenaga karena kami akan ke tiga puncak dan turun ke danau Taman Hidup.

Tiba di Rawa Embik
Tiba di Rawa Embik

Rekap Day 4

Pagi – 12.00                Sarapan, jemur pakaian, packing dan persiapan

12.00 – 14.30              Cikasur – Cisentor

14.30 – 16.00              Cisentor – Rawa Embik

16.00 – pagi                Camp

 Day 5 – 25 Januari 2014

Hari ke lima. Kami semua bangun pagi. Pukul 06.00 kami sudah bangun dan memasak nasi. Kami sarapan mie instan saja dan rencana kami adalah makan di puncak Rengganis nantinya.

Keluarga besar
Keluarga besar minus duo mbah Ki-Ka: Doni, Lawe, Widia, Tyas, Andik, Sidiq, Papek, Ulin, Pundi, Danan

Setelah melakukan pendakian selama 5 hari, akhirnya kami memulai perjalanan menuju puncak di hari ini. Dari pos Rawa Embik kami berjalan pukul 07.30. Perjalanan kali ini kami lakukan pagi sekali karena hari ini akan cukup panjang perjalanannya. Tujuan awal kami adalah pertigaan antara puncak Argopuro dan puncak Rengganis. Trek awal masih terhitung landai dan tidak terlalu berat. Ada beberapa spot yang cukup curam namun overall masih landai. Beberapa meter sebelum sampai di pertigaan puncak, kami melewati padang edelweis yang cukup luas. Indah sekali menikmati tempat ini. Kabut tebal mulai turun menemani perjalanan kami. Setelah 1 jam berjalan dari pos Rawa Embik, akhirnya kami sampai di pertigaan puncak.

Menuju puncak
Menuju puncak
DSCN1619
Pertigaan puncak

Kami meninggalkan carrier disini dan hanya membawa day pack saja menuju puncak. Puncak pertama yang kami tuju adalah puncak Argopuro. Dari pertigaan puncak kami berjalan ke arah kanan menaiki bukit. Trek menuju puncak Argopuro adalah menanjak terus namun hanya sebentar. Kabut berubah menjadi gerimis. Kami terus melanjutkan perjalanan. Setengah jam berjalan, kami sampai di puncak Argopuro. Puncak Argopuro ini ditandai dengan adanya tumpukan batu dan terdapat plakat penanda puncak. Kami berfoto-foto disini cukup lama. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju ke puncak Arca. Puncak Arca berada tidak begitu jauh dari puncak Argopuro. Melewati gigiran batu di jalur puncak Argopuro. Kami sampai juga di puncak Arca. Terdapat sebuah arca berbentuk orang sedang bersila disini sehingga puncak ini disebut puncak Arca. Kami makan snack dan foto disini. Setelah puas mengambil gambar, kami akhirnya turun kembali ke pertigaan puncak. Dari puncak Arca kami berjalan terus hingga akhirnya sampai di ujung lain dari bukit puncak ini. Kami juga melewati pertigaan tempat jalur trabasan yang akan kami gunakan sebagai jalur turun nanti.

DSCN1633
Pasukan Balon di puncak Argopuro
DSCN1631
Puncak Argopuro
Pasukan balon 2
Pasukan balon 2
Puncak Arca
Puncak Arca
Keluarga besar di Puncak Rengganis
Keluarga besar di Puncak Rengganis

Kami segera menuju ke puncak terakhir, puncak Rengganis. Dari pertigaan kami berjalan ke kiri melewati trek menanjak yang tidak terlalu curam. Sekitar 20 menit berjalan, akhirnya kami sampai di puncak Rengganis. Di puncak ini terdapat kawah belerang yang tidak terlalu besar. Puncak Rengganis adalah puncak yang paling indah menurut saya. Sayang sekali saat itu kami dihadang kabut tebal sehingga panorama yang tersaji agak tertutup kabut. Terdapat tumpukan batu disini dan ada batu yang berlubang sebagai tempat wadah air. Hujan gerimis turun ketika kami berada di puncak. Kami segera membentangkan fly sheet dan berteduh di bawahnya. Seperti rencana sebelumnya, kami makan di puncak. Sedangkan tim satunya memilih untuk memasak di pertigaan puncak. Menu kali ini kering tempe dan telur asin. Setelah selesai makan, kami kembali ke pertigaan puncak.

Target hari ini adalah turun lewat Bremi dan sampai di danau Taman Hidup. Jalur yang kami lewati adalah jalur trabasan. Jalur ini dapat menghemat waktu hingga 4 jam daripada kami harus kembali lewat Cisentor. Dari pertigaan puncak kami berjalan lurus ke arah kami turun dari puncak Arca. Dari sini terdapat pertigaan dan ambil jalur kiri. Jalur trabasan ini cukup curam. Vegetasinya masih rapat namun jalur masih tergolong jelas. Kami berjalan hingga akhirnya sampai di pertemuan jalur Trabasan dengan jalur Aing Kenik. Kami melanjutkan perjalanan agar tidak kemalaman di jalan. Karena jalur Bremi ini adalah jalur yang melipir jurang, sehingga berbahaya apabila jalan malam. Saya dan Doni berada di depan. Kami sempat mengisi air terlebih dahulu di sungai kecil yang melewati jalur. Air disini cukup bersih. Disarankan agar mengambil air disini saja, karena air di Danau Taman Hidup kotor dan tidak layak minum. Kami kemudian harus menyeberang sungai dengan meniti kayu kecil. Sungainya cukup besar tetapi airnya keruh. Sepertinya ini adalah sungai dari terusan Cisentor.

Turunan tali di Jalur Trabasan
Turunan tali di Jalur Trabasan
1796061_10203342247903544_299295246_o
Jalur trabasan
Jalur trabasan (foto Mbah Yoga)
Jalur trabasan (foto Mbah Yoga)

Cukup lama kami berjalan hingga kemudian kami mulai masuk area hutan lumut. Hutan yang sangat lebat dengan pohon yang tinggi dan akar-akar yang melintang di jalur. Trek datar sekali dan hampir tanpa elevasi. Sampai di dekat Taman Hidup, kami harus melewati pohon tumbang yang cukup besar melintang di tengah jalur. Di balik pohon tumbang itu terdapat campground Taman Hidup. Saya dan Doni sampai di Taman Hidup sekitar pukul 16.00. Jarak kami cukup jauh dengan yang belakang. Doni yang saat itu kebelet boker berjalan cepat sekali. Sampai di Taman Hidup, Doni langsung melaksanakan hajatnya.

Kondisi campground pada saat itu sangat kotor. Banyak sampah bertebaran dan bau yang busuk menyeruak dari tumpukan sampah. Kami mendirikan tenda disana. Perjalanan hari ke lima ini adalah perjalanan yang paling lama. Sekitar 8-9 jam kami berjalan dari pos Rawa Embik hingga Taman Hidup. Hujan kembali turun disini. Ini berarti kami selalu ditemani hujan setiap malam pada pendakian ini.

Malam ini kami masak nasi goreng. Nasi yang kami bawa pas sekali takarannya. Di hari ini nasi kami baru habis. Untungnya persediaan makanan masih banyak.

Rekap Day 5

Pagi – 07.30                Sarapan, packing dan persiapan

07.30 – 08.30              Rawa Embik – Pertigaan Puncak

08.30 – 09.00              Pertigaan Puncak – Puncak Argopuro

09.00 – 09.30              Puncak Argopuro – Puncak Arca

09.30 – 10.00              Puncak Arca – Pertigaan Puncak

10.30 – 11.00              Pertigaan Puncak – Puncak Rengganis

11.00 – 12.00              Makan di Puncak Rengganis

12.00 – 12.30              Puncak Rengganis – Pertigaan Puncak

12.30 – 13.00              Pertigaan Puncak – Jalur Trabasan

13.00 – 14.00              Jalur Trabasan – Cemoro Limo

14.00 – 15.30              Cemoro Limo – Masuk Hutan Lumut

15.30 – 16.00              Hutan Lumut – Danau Taman Hidup

16.00 – pagi                Camp

 Day 6 – 26 Januari 2014

Hari ini adalah hari terakhir pendakian kami. Target kami hari ini adalah sampai di basecamp Bremi. Pagi-pagi sekali kami bangun dan menuju danau untuk berfoto. Sayang, danau saat itu meluap hingga pinggir. Danau Taman Hidup diselimuti kabut di pagi hari. Airnya keruh dan hijau. Kami mengambil air di danau ini, namun setelah diminum ternyata tidak enak. Hampir sama dengan air Ranu Kumbolo di Semeru, sudah tidak layak minum. Kami berkemas dan bersiap-siap untuk turun. Pukul 09.00 kami sudah mulai perjalanan turun lewat jalur Bremi. Jalur ini berbeda dengan jalur Baderan, yang landai tetapi panjang. Jalur Bremi curam sekali, sepanjang jalur kami harus melewati hutan dan tangga dari akar. Kami sempat bertemu satu rombongan pendaki di tengah jalur. Mereka juga berencana untuk turun.

_MG_8011
Danau Taman Hidup
Pohon Tumbah di jalur Bremi
Pohon Tumbah di jalur Bremi
Hutan damar
Hutan damar

Sekitar 2 jam berjalan, kami sampai di hutan damar. Trek sudah menjadi tidak begitu curam namun panas matahari mulai terasa. Pukul 13.00 kami sampai di perkampungan penduduk. Kami berhenti di salah satu warung untuk minum dan mandi, sembari menunggu Mbah Sandi dan Ulin yang di belakang.

Pukul 15.30 kami berjalan ke arah Polsek Bremi. Disana kami menunggu bis terakhir yang akan mengangkut kami menuju terminal Probolinggo. Tak lama kemudian bis datang. Kami naik dan istirahat di dalam bis. Terlihat beberapa dari kami sempat ngiler karena kecapekan.

Pukul 18.00 kami sampai di terminal Probolinggo. Kami makan dan ngobrol-ngobrol mengenai pendakian. Kemudian kami berpisah untuk pulang ke kota masing-masing.

Rekap Day 6

Pagi – 09.00                Sarapan, packing dan persiapan

09.00 – 11.00              Danau Taman Hidup – Hutan Damar

11.00 – 13.00              Hutan Damar – Pos Pariwisata Bremi

13.00 – 15.30              Makan, mandi, dan istirahat di Pos Pariwisata Bremi

15.30 – 15.45              Pos Pariwisata Bremi – Polsek Krucil

15.45 – 18.00              Polsek Krucil – Terminal Probolinggo

Pendakian ini adalah salah satu pendakian paling berkesan bagi saya. 6 hari di gunung tidak bertemu peradaban dengan hanya beberapa orang. Bagaimana perjuangan kami untuk bisa terus mendaki hingga mengelabui petugas adalah salah satu pengalaman mendebarkan dalam mendaki. Well said, di pendakian ini saya baru merasakan sampai di puncak dengan perasaan biasa saja. Karena pendakian ini memang lebih utama perjalanannya yang penuh momen. Menuliskan ini di lantai atas sebuah kafe semakin membuat saya rindu akan kehangatan Argopuro dan sejuknya air Sungai Kolbu.

Kontributor foto: Doni, Lawe, Andik, Pundy, dan Mbah Yoga

Iklan

13 thoughts on “Catper Gunung Argopuro : The Hidden Paradiso (21 – 26 Januari 2014)

    1. Betul sekali bro, kalo jalur Bremi memang lokasi di Probolinggo tepatnya di Krucil. Nah, kami memang ketemuannya di terminal Probolinggo, tapi dari sana kami ke Besuki dan naik lewat jalur Baderan. Semoga ini yang dipertanyakan. Hehe

    1. waktu itu saya sih nggak ada biaya. Kalo gak salah cuma simaksi aja sih. Tapi gak tau kalo sekarang, mungkin sudah ada perubahan peraturan. Coba hubungi Kepala BKSDA Baderan – Pak Susiono 08113651015 buat tanya lebih jelasnya

  1. Baru sadar ternyata di foto ada yang dikenal. Salam untuk Om rangga lawe 😆😆

    Anyway, catpernya keren. Banyak informasi penting. Thanks

  2. mas maw tanya klo jalur terabas ituh yg dari puncak arca jelas gak yah? lumayan kan hemat 4 jam klo ke danau taman hidup.

      1. Gak punya gps mas.. Hehe, brti klo lewat puncak arca juga bisa yah ketemu dipertigaan jalur terabas, saya sedang fokus dijalur terabas inih.
        Banyak simpangan gak mas diantara jalur terabas inih…?

        *satu lagi mas, karena saya naik pesawat dan sampai sby ituh malam, saya harus cari gas hi cook dmn yah? Apakah di desa besuki banyak yg jual, apakah bnyk indo/alfamart disanah mas.. Thanks bgt atas infonya mas.. ^_^

      2. Gak banyak kok simpangannya. Ikuti jalur utama aja. Kalo mau lebih aman download track log yg lewat jalur terabas trus buka di google earth / aplikasi lain -> print -> bawa pas jalan.
        Indomaret/alfamart banyak kok di besuki. Ato bisa beli di sepanjang jalur perjalanan ke besuki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s