Catper Gunung Lemongan 1.671 mdpl (14-15 Desember 2013)


lemongan header

Glosarium
Gunung Lemongan : gunung yang berada di kabupaten Lumajang dengan ketinggian 1.676 mdpl. Tepatnya berada di desa Papringan kecamatan Klakah.
Mbah Citro : juru kunci yang berada di basecamp gunung Lemongan
Watu Gedhe : Pos 1 dari jalur pendakian gunung Lemongan
Gerbang : Pos 2 dari jalur pendakian gunung Lemongan
Guci : sumber air yang berasal dari tetesan akar. Air ini ditampung dalam sebuah guci keramik.

Peserta

lemongan pesertaDay 1 – 14 Desember 2013
Saya dan adik saya sudah lebih dulu berada di Lumajang sehingga kami sepakat untuk bertemu di terminal Wonorejo, Lumajang. Pukul 15.00 teman-teman yang berangkat dari Malang (Doni, Lawe, dan Widia) baru sampai di Lumajang. Hujan cukup deras turun di sore itu. Kemudian kami mencari angkot untuk mengantar kami menuju padepokan Mbah Citro di desa Papringan, Kecamatan Klakah. Mbah Citro adalah juru kunci Gunung Lemongan. Kami sempat mampir sebentar di warung dekat terminal untuk makan.
Dari Wonorejo kami menuju Klakah hingga sampai di pasar Klakah membutuhkan waktu 30 menit. Dari pasar Klakah lanjut perjalanan menuju padepokan Mbah Citro membutuhkan waktu sekitar 45 menit lagi. Di jalan kami bertemu dengan beberapa pendaki yang juga akan mendaki Gunung Lemongan.
Menurut perkiraan pendaki tersebut waktu yang diperlukan untuk sampai ke puncak Lemongan adalah 3-4 jam. Kami percaya saja dengan perkataan pendaki tersebut, mengingat ini adalah pertama kalinya kami mendaki Gunung Lemongan.

Dari Mbah Citro kami berangkat pukul 17.00. Saat itu hujan turun rintik-rintik. Target pertama kami adalah Pos 1, Watu Gede dengan waktu tempuh kira-kira 1-1,5 jam. Selepas Mbah Citro trek berupa ladang dan hutan yang sudah gundul. Banyak percabangan jalan namun jalan cukup jelas. Hingga akhirnya kami bertemu dengan sebuah bangunan permanen yang merupakan posko dari pecinta alam Lamongan (kalau tidak salah ingat). Apabila cuaca baik, dari sini dapat terlihat Gunung Lemongan menjulang di depan. Bentuknya kerucut, mirip seperti Gunung Penanggungan.
Selepas posko tersebut kami mulai masuk ke jalur kecil. Jalur sangat jelas dan vegetasi masih belum terlalu rapat. Trek masih terhitung datar dan terbuka hingga akhirnya sampai di Pos 1 Watu Gedhe pukul 18.15. Sebelumnya kami melewati trek yang disebut Watu Taek/Watu Keset. Trek berupa batuan vulkanik yang cukup luas. Hati-hati jangan sampai jatuh disini karena batunya cukup tajam. Di Watu Gedhe kami ngemil sebentar dan masak air. Hujan sudah mulai reda, hanya tinggal rintik-rintik kecil yang turun. Pilihan untuk camp hanya ada disini dan di puncak saja. Dengan pertimbangan “sayang tenaga” karena baru 1,5 jam jalan, kami memutuskan untuk camp di puncak saja. Karena menurut pekiraan awal di Mbah Citro, hanya tinggal 2 jam lagi perjalanan menuju puncak.
Selepas Watu Gedhe, trek berubah menjadi pasir dan batu. Mirip sekali dengan trek menuju puncak Mahameru namun bedanya disini masih terdapat vegetasi meskipun tidak terlalu rapat. Elevasi meningkat tajam. Pendakian sebenarnya baru dimulai dari sini. Perlahan kami berjalan menembus malam melewati hutan.
Pukul 22.00 kami sampai di Pos 2 Gerbang. Ternyata perkiraan awal yang hanya 3 jam meleset jauh. Sejauh ini kami sudah berjalan 5 jam dan masih ada setengah jalan lagi menuju puncak. Pos 2 ini berupa tanah yang tidak terlalu lapang. Bisa dipaksakan untuk memuat satu tenda 4P tapi tanah tidak terlalu datar. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan.
Selepas Pos 2 Gerbang, trek berubah drastis. Vegetasi menjadi sangat rapat dan tanah sudah tidak berpasir. Mungkin yang dimaksud dengan gerbang itu adalah gerbang menuju hutan lebat ini. Banyak pohon tumbang yang menghalangi jalan. Elevasi masih tidak berubah, nanjak terus dengan kemiringan hingga sekitar 50 derajat. Bisa dikatakan tidak ada bonus sama sekali disini. Dinginnya udara membuat perjalanan kami sedikit pelan karena sering kram. Setelah 2 jam berjalan dari Pos 2, kami berhenti dulu untuk makan mie instan. Kami berhenti di tanah datar yang tidak terlalu luas. Sempat pula terlintas untuk tidur disitu tanpa tenda karena sudah lelah berjalan.
Pukul 23.40 kami sampai di tempat bernama Guci. Disini terdapat air tetesan akar yang tertampung dalam sebuah guci keramik. Saat kami sampai disana, guci dalam keadaan penuh. Segera kami mengisi kembali persediaan air kami. Konon katanya, Mbah Citro menggunakan air guci ini untuk mencuci pusaka. Disini tidak terdapat tanah yang cukup baik untuk digunakan camp, kami melanjutkan perjalanan.

Day 2 – 15 Desember 2013
Hari sudah berganti. Delapan jam sudah kami berjalan dan belum sampai juga di puncak. Pukul 01.00 kami sampai di trek dimana kami harus memanjat batu yang cukup tinggi. Dan setelah batu itu terlewati, tersaji pemandangan yang sungguh indah. Inilah puncak Lemongan. Inilah kejutan terbesar bagi kami, view puncak yang sangat indah. Salah satu puncak terindah yang pernah saya lihat. Sesaat setelah sampai di puncak kami hanya duduk diam di atas batu memandangi citylight Lumajang dan sekitarnya. Dari puncak ini juga terlihat danau di sekitar Klakah. Di Klakah terdapat trio ranu yang semuanya dapat terlihat dari puncak Lemongan ini. Ranu Klakah, Ranu Pakis dan Ranu Bedali merupakan danau bekas letusan gunung berapi (maar). Di sekitarnya juga dapat terlihat maar lain yang terbentuk akibat aktivitas vulkanik dari gunung Lemongan di masa lalu. Kami terpana dan hanya ingin menikmati momen indah ini. Perjalanan 8 jam dengan trek yang “istimewa” tidak terasa sia-sia. Semua terbayar begitu berada di puncak.
Kami camp sedikit di bawah puncak, disana terdapat tanah yang cukup lapang. Di samping kami terbentang kawah Lemongan. Saya dan om Lawe kemudian memasak. Sementara itu teman-teman lain istirahat. Menu untuk malam ini adalah sate kambing yang sudah menunggu untuk dibakar. Ternyata lemaknya sudah keras dan tidak bisa dimakan. Terpaksa kami membuang lemak yang sudah keras itu. Ternyata membakar sate itu susah, tak semudah membakar jagung. Arang yang saya bawa pun sampai ludes terbakar semua. Hasil akhir bakar sate tidak begitu istimewa, tapi juga tidak begitu buruk. Minimal masih bisa dimakan lah 😀

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pukul 05.00 kami disambut oleh sunrise yang luar biasa indah di langit Lamongan. Kumpulan awan ditimpa cahaya sang surya yang terbit sungguh memanjakan mata. Kami menikmati pagi itu dengan kopi dan makan sate. Saya dan om Lawe yang belum tidur kemudian merebahkan badan sejenak, sedangkan Doni dan Widia memasak untuk sarapan. Beberapa pendaki yang kami temui di Mbah Citro mulai nampak di puncak Lemongan. Sepertinya mereka camp di Watu Gedhe.
Kami juga sempat bertemu dengan rombongan anak SMK Lumajang yang camp di goa samping kawah. Dari cerita mereka, saat mereka sampai di puncak cuaca sedang buruk. Hujan petir menggelegar hingga mereka ketakutan dan masuk ke goa. Dingin pagi berganti menjadi panas terik. Saya terbangun karena gerah di tenda. Pas sekali waktunya karena saat saya bangun sarapan sudah siap. Menu makan pagi ini adalah ikan asin, telor dadar dan sop. Setelah sarapan, kami mulai packing dan bersiap-siap untuk turun. Tak lupa kami mengabadikan momen di puncak Lemongan ini, gunung dengan tinggi 1.600an tapi rasa 3.000an.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kami mulai berjalan turun pukul 10.00. Kabut tebal mulai turun. Kami segera berjalan menuju basecamp Mbah Citro. Trek yang kami lewati semalam terlihat dengan jelas. Curam sekali. Kami berhati-hati turun perlahan. Sesampainya di Guci kami disambut hujan deras. Setelah itu hujan tidak berhenti sama sekali selama kami turun.
Perjalanan turun relatif lancar. Kami sampai di Watu Gedhe pukul 13.00. Disana kami bertemu pendaki yang juga akan turun. Kami istirahat sebentar kemudian melanjutkan perjalanan. Hujan semakin besar saja dan disertai dengan angin. Trek yang terbuka membuat perjalanan menjadi semakin dingin. Pukul 14.00 kami sampai di basecamp Mbah Citro. Disana banyak pecinta alam berkumpul karena ada acara penanaman pohon. Hujan mulai reda. Doni kemudian menghubungi Pak Dul yang angkotnya kami gunakan kesini kemarin. Kami bersantai dulu disini menunggu angkot sembari menyeruput kopi.

DSCN1427
Pukul 15.00 angkot datang, kami menuju terminal Wonorejo. Sampai di terminal Wonorejo kami bersih-bersih badan di masjid. Om Lawe dan Widia bermalam di rumah Doni karena terlalu capek untuk perjalanan ke Malang lagi. Sementara saya dan Ebi pulang ke rumah.
Pendakian ini sungguh memberikan pelajaran berarti. Yang utama adalah jangan menilai gunung hanya dari tingginya saja, karena setiap gunung memiliki misterinya sendiri.

Iklan

6 thoughts on “Catper Gunung Lemongan 1.671 mdpl (14-15 Desember 2013)

  1. Aku naik ke Lemongan start jam 14.00 sampai puncak 18.30. Emang bener gunung ini serasa 3.000an tingginya. No bonus at all. Worth to try.

  2. selamat sore, wah bang Andik carriernya miring.. packingnya kurang pas sepertinya.. apa kabar nih bang Andik.. bang doni Dan bang lawe..

    cakep memang sunrise di Mt. Lamongan
    wuah belum ketiduran nih saya nanjak dengan kalian..
    #kapankitangopidikantin

    1. hehe, iye om jejen. kurang pas itu packingnya.
      alhamdulillah baek semua om, masih mantep kinyis2 kondisi kami semua.

      kapan om ke lamongan? boleh lah ane diajak kalo kesono lagi.
      ayo om, kapan kita ngopi di gunung? aseeek. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s