Catper Gunung Arjuno 3.339 mdpl – Welirang 3.156 mdpl via Tretes (15-17 November 2013)


arjuno header

Intro

Akhir-akhir ini saya dan teman-teman kuliah sedang getol naik gunung. Dalam 6 bulan terakhir, sudah 8 kali saya naik gunung. Semuanya adalah gunung di Jawa Timur. Dimulai dari Semeru, Penanggungan, Panderman, hingga Buthak. Di setiap pendakian, deretan Arjuno-Welirang selalu terlihat gagah menjulang. Setelah sering melihat Arjuno-Welirang yang indah dari jauh, ada keinginan untuk melihatnya lebih dekat. Setelah sounding ke teman-teman, akhirnya terkumpul 8 peserta untuk berangkat ke Arjuno-Welirang, yaitu saya, Lawe, Doni, Jefri, Mbah, Widia, Juki, dan Iman. Doni dan Jefri sebelumnya sudah pernah ke Arjuno, dan Mbah sudah pernah ke Welirang. Awalnya saya ingin dapat 4 puncak sekaligus yaitu Welirang, Kembar I, Kembar II, dan Arjuno. Tetapi setelah dihitung dan diestimasi ulang, waktu yang tersedia tidak mencukupi. Akhirnya disepakati kami hanya akan ke Welirang dan Arjuno. Dan inilah cerita pendakian Arjuno-Welirang kami…

1st Day – Jumat, 15 November 2013

Setelah di dua pendakian sebelumnya (Panderman dan Buthak) saya menjadi korlap, kali ini korlap pendakian adalah Doni. Jadwal pertama kami adalah kumpul di kos Doni pukul 19.00 untuk packing dan cek perlengkapan terakhir. Seperti biasa, jadwal molor tidak terelakkan. Kami baru berkumpul semua pukul 20.00. Dari banyak jalur yang tersedia, rencananya kami akan lewat jalur Tretes dengan pertimbangan air lebih mudah didapat di jalur ini. Di jalur Tretes, kami akan melewati 3 pos besar dan di semua pos itu terdapat sumber air. Dimulai dari basecamp, kemudian Pet Bocor, Kokopan, dan Pondokan. Di Pondokan inilah akan ada persimpangan menuju Puncak Ogal-Agil dan Puncak Welirang. Beberapa orang menyarankan agar kami camp di Pondokan, kemudian summit attack Welirang, turun lagi ke Pondokan, dan kemudian summit attack Arjuno (Ogal-Agil). Tampaknya ini adalah opsi terbaik untuk kami.

Gambar
Packing di kosan Doni

Dari kos Doni kami menuju Terminal Arjosari dan menitipkan motor disana. Kami tiba di Terminal Arjosari sekitar pukul 21.00. Dari Arjosari kami naik bis ekonomi menuju Pandaan. Biaya per orang murah saja Rp8.000. Perjalanan menuju Pandaan berjalan lancar tanpa hambatan. Pukul 22.10 kami sampai di Pandaan. Kami turun di Pasar Buah Pandaan karena bis tidak berhenti di terminal Pandaan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp pendakian di Tretes dengan naik mobil yang sudah dipesan oleh kakaknya Doni. Setelah negosiasi harga yang tidak alot, kami setuju dengan tarif Rp15.000 per orang sehingga total biaya Rp120.000. Mobil yang digunakan adalah tipe L300. Pukul 22.35 mobil mulai berjalan. Perjalanan Pandaan menuju Tretes cukup seru. Kami melewati deretan penginapan abal-abal dengan suasana mirip kawasan Puncak di Bogor. Sampai di basecamp Tretes sekitar pukul 23.00 dan langsung mendapat surprise besar. Jalur pendakian ditutup!!

Gambar
Surprise!!
Gambar
Basecamp

Kebakaran besar beberapa hari sebelumnya membuat jalur pendakian ditutup sejak 11 November 2013 hingga waktu yang belum ditentukan. Sempat bingung juga dengan kondisi ini. Beruntung di basecamp kami bertemu dengan pendaki asal Surabaya yang baru saja turun dari puncak. Mereka menyarankan agar kami bilang saja ke penjaga untuk naik sampai pos Kokopan saja, tapi sebenarnya kami naik sampai ke puncak. Kami pun ke rumah penjaga pos yang terletak di sebelah basecamp. Beliau memperbolehkan kami naik sampai Kokopan, tapi tanpa registrasi resmi. Ketika kami sudah bersiap-siap untuk naik, tiba-tiba datang seorang pria yang mengaku sebagai petugas Perhutani. Dia melarang kami untuk naik meskipun hanya sampai Kokopan. Kami mulai ngobrol-ngobrol dan merasa tidak yakin dengan statusnya sebagai petugas Perhutani. Daaaaaan…..ujung-ujungnya minta uang Rp5.000 per orang. Saat itu di basecamp juga ada rombongan pendaki dari Surabaya yang juga akan naik, dan mereka mengalami hal yang sama. Kami sebenarnya merasa tidak keberatan dia minta uang, tapi kami merasa waktu kami yang terbuang  itulah yang berharga. Setelah rintangan konyol terlewati, kami mulai berjalan menuju pos pertama, Pet Bocor.

Basecamp – Pet Bocor : 20 menit

Estimasi perjalanan dari basecamp menuju Pet Bocor adalah 45-60 menit. Pukul 22.30 kami mulai perjalanan. Jalur pendakian berupa jalan setapak di samping basecamp. Trek awal masih datar hingga menuju jalan batu yang cukup lebar dan menanjak. Tanjakan disini cukup curam dan ketika hujan jadi licin. Setelah itu kami belok melewati trek tanah sebentar. Trek landai dan jalur cukup jelas. Kemudian kami sampai di jalan beton. Jalan ini sebenarnya adalah jalan untuk mobil Jeep pengangkut belerang yang biasa naik sampai ke Pondokan. Tidak lama kemudian kami sampai di Pet Bocor. Asal-usul nama Pet Bocor sendiri adalah karena disini terdapat pet (bahasa Jawa untuk pipa PDAM) yang bocor. Waktu menunjukkan pukul 23.50 ketika kami tiba. Disini terdapat warung yang buka hampir setiap hari. Pendaki bisa menyantap mie instan dan teh hangat di warung ini. Sumber air berasal dari pipa yang mengalir deras. Kami mengisi persediaan air dan juga packing ulang karena ada beberapa teman yang merasa packingannya kurang optimal. Tidak berhenti lama, pukul 24.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Kokopan

2nd Day – Sabtu, 16 November 2013

DSCN0860
Menu sarapan di Kokopan
DSCN0861
Breakfast time
DSCN0867
Gunung Penanggungan terlihat dari Kokopan

Pet Bocor – Kokopan : 3 jam

Trek awal dari Pet Bocor menuju Kokopan masih melanjutkan jalan beton di trek sebelumnya. 5 menit berjalan, kami sampai di sebuah gapura. Di samping gapura tersebut terdapat bangunan berbentuk seperti pos. Trek berubah menjadi batu bercampur tanah. Tanjakan masih normal dan tidak terlalu curam. Vegetasi awal berupa semak dan pohon pisang. Jalur sangat jelas dan lebar karena ini masih jalur mobil pengangkut belerang. Kami berjalan dengan kecepatan konstan. Gerimis kecil terkadang menemani perjalanan kali ini. Perjalanan malam membuat kami fokus ke jalan saja. Inilah kelebihan jalan malam hari, bisa fokus dan matahari tidak panas menyengat. 90 menit berjalan dari Pet Bocor, kami berhenti dulu untuk mengisi energi. Pisang yang sedianya akan digunakan untuk membuat pisang coklat ternyata mulai layu kedinginan. Daripada nanti tidak bisa dimakan, pisang itu kami makan di jalan. Selepas daerah pepohonan pisang, trek masih sama tapi vegetasi mulai berubah menjadi semak-semak saja. Cukup panjang trek ini hingga akhirnya jalur mulai terbuka. Vegetasi berubah menjadi rumput-rumputan tinggi. Terdapat spot yang cukup bagus pemandangannya disini, dimana kita bisa melihat view kota Pandaan, Tretes, dan Porong dengan cukup jelas. Lampu-lampu kota terlihat indah berkelap-kelip dibawah sana. Dari sini sudah tidak terlalu jauh lagi menuju Kokopan. Samar-samar kami mulai mendengar suara gemericik air. Itu tandanya kami sudah dekat dengan pos Kokopan karena di Kokopan terdapat sumber air berupa pancuran yang cukup deras. Pukul 03.00 kami akhirnya sampai juga di pos Kokopan. Disini terdapat warung juga yang hanya buka pada hari-hari tertentu. Campground di Kokopan bisa menampung 4-6 tenda tapi sayangnya tanahnya sedikit berbatu. Kami segera mencari tempat yang paling enak untuk mendirikan tenda. Pagi itu cuaca bersahabat dengan kami, udara tidak terlalu dingin. Setelah mendirikan tenda, kami istirahat untuk memulihkan energi karena perjalanan dari Kokopan menuju Pondokan diperkirakan lebih berat. Pukul 04.00 kami sudah berselimut sleeping bag di dalam tenda. Mbah yang memilih untuk tidak tidur menawarkan untuk memasak nasi.

Warung di Kokopan
Warung di Kokopan

Sumber mata air di Kokopan

Saya sendiri tidak bisa tidur dan hanya berbaring di dalam tenda untuk meluruskan punggung. Pukul 06.00 kami semua sudah bangun dan mulai memasak lauk untuk sarapan. Menu hari ini adalah capcay, telor dadar, ayam goreng, tempe goreng tepung, dan pear. Inilah salah satu hal yang saya suka dari mendaki bersama teman-teman ini, makanannya enak-enak. Dari Kokopan terlihat Gunung Penanggungan di sebelah kiri, gunung yang disebut sebagai miniatur Semeru. Dan apabila cuaca sedang bagus dan tidak berkabut, terlihat juga lumpur Lapindo di kejauhan. Pukul 07.40 kami mulai beres-beres dan packing alat. Rencana hari ini adalah kami sampai di Pondokan dan kemudian lanjut summit attack Welirang.

Kokopan – Pondokan  : 3 jam 15 menit

Pukul 08.30 kami mulai melanjutkan perjalanan menuju Pondokan. Estimasi perjalanan kali ini adalah 4 jam. Trek awal masih batu namun berbeda dengan trek dari Pet Bocor ke Kokopan. Batu di jalur ini sudah tertata rapi dan lebih nyaman dipijak. Jalur yang kami lewati masih merupakan jalur mobil. Di kiri kanan jalur terlihat bekas kebakaran yang nampaknya cukup besar. 15 menit berjalan kami menjumpai sebuah bangunan seperti pos di sebelah kanan kami. Tanjakan disini cukup curam hampir tanpa bonus dan lumayan membuat napas ngos-ngosan. Cukup lama kami berada di jalur bekas kebakaran. Sampai akhirnya kami menjumpai vegeetasi yang tidak terbakar. Kemudian terdapat beberapa bonus-bonus pendek diselingi tanjakan normal. Dan tibalah kami di sebuah tanjakan lurus, curam, dan panjang yang disebut dengan Tanjakan Penyesalan. Tanjakan ini memang bisa membuat mental turun karena jalannnya yang sangat jelas sehingga ujung tanjakan pun bisa terlihat. Sampai di ujung tanjakan, kami memutuskan untuk break dan masak air untuk membuat Energen. Saat itu waktu menunjukkan pukul 09.50. Snack mulai dikeluarkan untuk mengisi energi sambil menunggu air panas. Kabut mulai turun meskipun tidak terlalu tebal. Cukup lama kami berhenti disitu sampai semua berkumpul. Pukul 10.40 kami sudah mulai berjalan lagi. Trek selepas Tanjakan Penyesalan tidak seberat sebelumnya. Tanjakan kecil-kecil dan terbilang landai terhampar di depan kami. Kemudian kami sampai di kawasan hutan pinus dengan trek landai. Pemandangan indah tersaji di depan mata. Tidak jauh berjalan dari sana, kami sampai di sebuah tanah yang cukup lapang. Disini terdapat percabangan antara jalur pendaki dan jalur penebang. Terdapat sebuah papan “BUKAN JALUR PENDAKIAN” yang menunjukkan bahwa itu adalah jalur penebang. Jalur pendakian masih tetap lurus. Pukul 11.45 kami akhirnya sampai di Pondokan. Kami memilih salah satu pondok yang halamannya cukup luas sebagai tempat berteduh. Tidak lama kemudian hujan datang dengan cukup deras. Rencananya kami akan summit attack ke Welirang pukul 14.00. Energen menjadi pilihan untuk mengisi energi sambil makan snack. Sumber air di Pondokan berupa aliran air yang sudah diberi selang untuk memudahkan pengambilan air. Disini juga terdapat bak penampungan air. Tetapi hati-hati apabila sedang hujan karena air akan menjadi keruh.

IMG_1693[04-17-27]
Trek batu Kokopan – Pondokan
IMG_1697[04-18-18]
Selepas Tanjakan Penyesalan
IMG_1701[04-19-35]
Persimpangan jalur penambang dan jalur pendaki

Tidak lama kemudian ada rombongan asal Bandung yang baru turun dari puncak Arjuno. Mereka beruntung sekali bisa melihat kijang di Lembah Kijang. Kami sebenarnya masih belum memutuskan untuk camp dimana. Pilihan antara Lembah Kijang atau Pondokan masih menjadi permasalahan.

Pondokan – Puncak Welirang : 2 jam 45 menit

Gosip yang mengatakan bahwa penambang yang ada di Pondokan kurang welcome terhadap pendaki tidak sepenuhnya benar. Kami sempat ngobrol-ngobrol dengan salah satu penambang yang berada di pondok sebelah kami. Dan karena kami merencanakan untuk summit attack dengan hanya membawa daypack, barang-barang kami titipkan kepada bapak penambang ini. Kami hanya memberi uang rokok sekedarnya kepada beliau.

Suasana Pondokan
Suasana Pondokan

Pukul 14.00 kami mulai perjalanan summit attack ke puncak pertama, Welirang. Puncak Welirang berada di ketinggian 3.156 mdpl dan estimasi waktunya adalah 3 jam. Hujan masih tetap turun dengan deras. Trek menuju puncak berupa trek batu dengan kombinasi trek tanah. Trek tanah ini saat tidak hujan sangat berdebu sehingga ketika hujan trek menjadi licin. Entah kenapa perjalanan kali ini begitu berat rasanya. Selain karena hujan dan dingin, energi yang belum pulih benar menjadi faktor beratnya perjalanan ini. Trek batu menjadi licin akibat hujan. Lawe beberapa kali terpeleset hingga hampir jatuh. 90 menit kami berjalan akhirnya kami sampai di Sabana Kecil. Disini terdapat jalur persimpangan menuju Gunung Kembar. Kami berteduh sejenak di bawah pohon sambil berkerudung fly sheet untuk mengurangi dingin. Saya makan roti coklat untuk mengganjal perut yang sudah lapar sejak tadi. Dan akhirnya tim terpisah menjadi dua. Empat orang (Saya, Jefri, Lawe, dan Mbah) memutuskan untuk lanjut menuju puncak, dan empat orang lainnya (Doni, Widia, Iman, dan Juki) memutuskan untuk turun kembali ke Pondokan.

??????????
Puncak Welirang 3.156 mdpl

30 menit kemudian kami lanjut berjalan. Dari Sabana Kecil kami mengikuti jalur pendaki menuju kanan arah kami. Trek berubah menjadi landai menyisir tepi tebing. Pemandangan indah sekaligus menyeramkan kami lewati dengan lancar. Cuaca semakin tidak bersahabat. Hujan, angin kencang, ditambah kabut tebal dengan jarak pandang hanya sekitar 5 meter. Bau belerang mulai menyengat menyebabkan beberapa dari kami batuk-batuk. Disarankan agar membawa kain basah agar belerang tidak banyak terhirup. Sesekali tanjakan namun tidak curam kami lalui. Selepas dari Sabana Kecil tadi, kami seperti mendapat energi tambahan. Semangat untuk segera sampai di puncak dan kembali ke Pondokan membuat kami berjalan begitu cepat. Kami juga sempat sedikit nyasar di kawasan Goa Jepang karena kabut yang begitu tebal. Untung saat itu Mbah membawa GPS sehingga kami kembali ke jalur yang benar. Selepas itu kami sampai di persimpangan batu besar, dan menuju ke arah kiri. Untuk menuju Puncak Welirang kami harus melewati dua bukit lagi. Dan akhirnya pukul 16.45 kami sampai juga di Puncak Welirang 3.156 mdpl. Tidak terdapat tanda bahwa itu adalah puncak. Hanya ada tumpukan batu yang menandakan itu adalah puncak. Jefri menangis begitu sampai di puncak, dan Lawe langsung sujud syukur. Saya sendiri teriak-teriak kencang menandakan erupsi kepuasan yang begitu melimpah. Dinginnya udara membuat tangan muka kami kaku ketika sampai di puncak. Hanya sempat foto 2 kali disini, kami langsung turun karena tidak tahan dengan dinginnya. Begitu kami turun, cuaca langsung berubah. Hujan berhenti dan angin sudah tidak sekencang sebelumnya. Di Goa Jepang, kami makan snack sedikit sambil merokok untuk menghangatkan badan. Perjalanan turun kembali ke Pondokan relatif lancar. Turun di trek berbatu memang menyiksa kaki. Kami  mengikuti petunjuk yang ada berupa tanda di sepanjang jalan. Pukul 19.00 kami sudah sampai di Pondokan.

Teman-teman yang kebih dulu sampai di Pondokan sudah mulai memasak, tinggal sedikit lagi selesai. Menu untuk makan malam adalah sayur asem, ikan asin, dan tempe goreng tepung. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya kami memutuskan untuk camp di Pondokan saja daripada di Lembah Kijang. Campground Pondokan berada sedikit di atas pondok-pondok penambang. Tempatnya cukup luas, bisa untuk menampung 6-8 tenda. Sembari menunggu selesai memasak, kami mulai mendirikan tenda. Berbeda dengan Kokopan, di Pondokan tanahnya tertutup rumput-rumput kecil sehingga lebih nyaman untuk tidur. Pukul 21.00 kami sudah terlelap semua di dalam kantong tidur.

3rd Day – Minggu, 17 November 2013

Pondokan – Puncak Ogal Agil : 3 jam 15 menit

Malam di Pondokan kami lewati dengan sangat syahdu. Rencana awal untuk summit attack Arjuno pukul 02.00 molor dari jadwal. Beberapa dari kami mulai bangun pukul 04.00. Awalnya hanya Mbah, Jefri, dan Lawe yang memutuskan summit attack ke Arjuno. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk ikut muncak. Karena sayang untuk melewatkan kesempatan ini. Estimasi awal perjalanan menuju puncak adalah 7 jam. Sebelum berangkat, kami juga menyepakati dengan teman-teman yang tidak ikut summit attack apabila jam 12 kami belum kembali ke Pondokan, kami menyarankan teman-teman turun duluan ke basecamp. Arjuno sendiri memiliki puncak tertinggi bernama Puncak Ogal-Agil dengan ketinggian 3.339 mdpl. Dan yang membuat semangat adalah trek menuju Puncak Ogal-Agil sudah bukan trek batu, tapi trek tanah yang benar-benar tanah. Seems legit 😀

SAM_1144
Lembah Kijang
Pertigaan Arjuno-Welirang
Pertigaan Arjuno-Welirang

Kami mulai berangkat pukul 05.00 dari Pondokan. Trek awal menuju Arjuno masih berupa tanah datar yang lumayan panjang. Vegetasi berupa alang-alang tinggi. Sekitar 15 menit berjalan kami tiba di campground Lembah Kijang. Tempat yang bagus dan enak untuk nge-camp. Vegetasi disini berupa hutan pinus dengan pohon yang tinggi-tinggi. Terdapat petunjuk jalur pendakian disini berupa papan tanda jalur. Setelah itu di depan kami terhampar padang rumput yang sungguh indah. Inilah yang dinamakan Lembah Kijang. Apabila beruntung, bisa terlihat kijang sedang berkeliaran disini. Sayang, kami hanya bisa melihat ayam hutan.  Selepas Lembah Kijang, jalur masih landai kemudian mulai menanjak sedikit curam hingga akhirnya tiba di persimpangan Arjuno-Welirang. Terdapat papan tanda persimpangan disini. Trek terus menanjak dan vegetasi mulai berubah menjadi rapat. Kamimengikuti petunjuk yang berada di sepanjang jalur berupa bendera merah putih yang diikat di ranting pohon. Trek kemudian terbuka, dan jalur melipir di punggungan bukit hingga sampai di hutan pinus lagi. Trek disini menanjak dengan cukup curam. Jalur di hutan ini tidak terlalu jelas dan banyak cabang, ikuti saja bendera putih yang ada di sepanjang jalur. Setelah melewati puncak bukit ini, kami sampai di tugu perbatasan Malang-Pasuruan. Dari sini trek sudah landai sekali dan mulai banyak batu di sekitar jalur. Kemudian kami tiba di Pasar Dieng yang ditandai dengan adanya 4 makam in memoriam disini. Awalnya saya mengira inilah Puncak Ogal-Agil karena tidak melihat ada yang lebih tinggi dari tempat ini. Tapi ternyata puncak masih harus melewati dua bukit lagi. Sebelum puncak, kami harus melewati turunan curam untuk sampai ke lembah yang merupakan pertemuan antara jalur Lawang dengan jalur Tretes.

Puncak Ogal Agil 3.389 mdpl
Puncak Ogal Agil 3.389 mdpl
Jualan balon di puncak
Jualan balon di puncak

Pukul 08.15 kami sampai di Puncak Ogal-Agil. Puncak berupa batu-batu besar yang konon apabila terkena angin besar bisa bergoyang. Di samping puncak sudah langsung terdapat jurang menganga. Cukup menyeramkan berada disini. Hasil vandalisme juga banyak terdapat disini. Coretan-coretan di batu-batu besar cukup mengotori pemandangan. Cuaca saat itu sangat bersahabat, tapi sayang kabut tebal menutup pemandangan di sekitar puncak. Di puncak kami bertemu dengan rombongan pendaki yang lewat jalur Lawang. Disini sinyal cukup kuat sampai Mbah bisa kirim gambar via WhatsApp. Tak lupa kami meniup balon yang memang sudah niat ditiup begitu sampai di puncak. Setelah mengabadikan beberapa momen, pukul 09.00 kami turun dari puncak dan berencana ngopi-ngopi sambil istirahat dulu di Pasar Dieng. Tapi akhirnya kami malah berhenti di tugu perbatasan dan istirahat disana. Pemandangan dari sini cukup indah, sambil sesekali terhalang kabut. Puas ngopi dan ngemil, pukul 10.00 kami turun ke Pondokan. Setelah kemarin dihajar trek batu di Welirang, maka trek tanah di jalur Arjuno ini terasa nikmat sekali. Buktinya waktu tempuh untuk turun kami hanya 1,5 jam saja. Itupun sudah diselingi dengan nyasar sebentar karena saya salah memilih jalur turun. Kami tersesat cukup jauh hingga 2 punggungan bukit. Setelahnya perjalanan lancar sekali. Pukul 11.30 kami sudah sampai di Pondokan.

Tugu Perbatasan Malang - Pasuruan
Tugu Perbatasan Malang – Pasuruan
Campground Pondokan
Campground Pondokan

Pondokan – Basecamp : 3 jam

Tiba di Pondokan, teman-teman yang tidak ikut naik baru saja selesai makan siang dengan menu nasi goreng keju. Kami memutuskan untuk masak lagi dengan menu sosis goreng, telor dadar, pete goreng, dan tempe goreng bumbu. Doni, Iman, Widia, dan Juki memutuskan untuk turun ke basecamp lebih dulu. Pukul 13.30 mereka mulai berangkat turun. Kami masih melanjutkan masak memasak. Begitu selesai masak, hujan turun dengan cukup deras. Segera kami mengungsi ke dalam tenda. Rencananya kami akan turun pukul 14.00 tapi lagi-lagi molor. Suasana di dalam tenda begitu nikmat untuk istirahat. Akhirnya kami packing dibawah guyuran hujan. Sisa logistik yang cukup banyak kami hibahkan kepada penambang. Pukul 15.00 kami mulai berjalan turun. Ditemani guyuran hujan yang sudah mulai reda, kami melangkah di trek batu. Sampai di turunan sebelum Tanjakan Penyesalan, kabut mulai tebal. Jarak pandang hanya 5 meter. Pelan-pelan saya melangkah karena jalur yang licin cukup berbahaya. Trek batu ini benar-benar menyiksa kaki. Membayangkan jalur dari Kokopan menuju Pet Bocor nanti membuat saya malas berjalan sekaligus semangat karena ingin cepat sampai di basecamp. Pukul 16.20 kami sampai di Kokopan. Kabut mulai hilang. Kami istirahat sejenak disini sembari menunggu Jefri sholat ashar. Pukul 17.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Pet Bocor. Dugaan saya tepat, trek batu di jalur ini  lebih menyiksa dibanding sebelumnya. Batu disini masih belum tertata rapi dan licin. Lawe beberapa kali jatuh karena terpeleset. Kami bertemu dengan beberapa rombongan pendaki yang baru naik. Pukul 18.00 akhirnya kami sampai di Pet Bocor. Hari sudah mulai gelap, headlamp segera beraksi. Tidak lama berhenti di Pet Bocor, kami segera melanjutkan perjalanan mengingat tinggal sedikit lagi kami sampai di basecamp. Hujan turun menemani perjalanan kami. Pukul 18.15 kami akhirnya sampai di basecamp dengan disambut teh hangat dari warung sebelah.

Nasi Goreng Keju
Nasi Goreng Keju
Perjalanan turun Pondokan - Basecamp
Perjalanan turun Pondokan – Basecamp
Sampai di Basecamp
Sampai di Basecamp

Beberapa dari kami segera mandi di toilet yang ada di basecamp. Segarnya air pegunungan ditambah dengan capek fisik menjadikan mandi begitu nikmat. Selesai mandi kami makan dulu. Di basecamp sudah ada beberapa mobil yang bersedia mengantar kami menuju Pandaan. Setelah negosiasi harga, dapatlah mobil L300 dengan tarif Rp80.000. Awalnya kami ingin mobil ini mengantar kami sampai di Terminal Arjosari, tetapi sopirnya tidak berani karena SIM-nya sedang ditahan polisi. Pukul 21.00 kami berangkat menuju Terminal Pandaan. Dari sini kami sewa mobil lagi dengan tarif Rp140.000 tapi mobilnya lebih bagus, tipe Elf. Pukul 22.30 kami sudah sampai di Terminal Arjosari dan kembali ke rumah masing-masing.

Rincian Waktu Perjalanan

Terminal Arjosari – Pandaan via Bis           :               1 jam

Pandaan – Basecamp Tretes                     :               1 jam

Basecamp – Pet Bocor                               :               20 menit

Pet Bocor – Kokopan                                  :               3 jam

Kokopan – Pondokan                                  :               3,5 jam

Pondokan – Puncak Welirang                     :               2 jam 40 menit

Puncak Welirang – Pondokan                     :               1,5 jam

Pondokan – Puncak Ogal Agil                     :               3 jam 15 menit

Puncak Ogal Agil – Pondokan                     :               1,5 jam

Pondokan – Basecamp Tretes                     :               3 jam

Rincian Biaya

Bis Terminal Arjosari – Pandaan             :               @ Rp8.000 (Rp64.000)

L300 Pandaan – Basecamp Tretes         :               Rp120.000

Uang Tutup Mulut                                    :               @ Rp5.000 (Rp40.000)

Uang Rokok Penambang                         :               Rp25.000

L300 Basecamp Tretes – Pandaan          :               Rp80.000

Elf Pandaan – Terminal Arjosari               :               Rp140.000

Total                                                         :               Rp469.000          

*Biaya diluar logistik dan perlengkapan lain

14 thoughts on “Catper Gunung Arjuno 3.339 mdpl – Welirang 3.156 mdpl via Tretes (15-17 November 2013)

    1. maaf mbak, saya nggak punya no telepon sopirnya. Kalo mau nyari mobil, di terminal Pandaan dan pasar buah Pandaan biasanya udah banyak yg siap anter ke basecamp. Harganya silakan nego sendiri

    1. di basecamp ada penjaganya. Simaksi biasanya diurus disana. Kemarin saya nggak ngurus simaksi karena jalur sedang ditutup. Itu boleh naik juga setelah izin dulu sama penjaga, tapi gak pake simaksi 😀

  1. mau 4 puncak sekaligus dalam 2 hari, 1 malam, ato (3 hari 2 malam, melihat kondisi team) yakni puncak arjuna (ogal agil) kembar 2, kembar 1 dan welirang,,, via naik jalur sumber gondo, turun sumberbarantas (pemandian air panas cangar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s