Lawu 3.265 mdpl via Candi Cetho (7 – 10 Februari 2013) : Chapter I


Liburan semester ganjil kemarin saya dan teman-teman mengisi waktu dengan naik ke puncak Gunung Lawu. Rencana perjalanan yang sebenarnya mendadak. Saya baru diajak berangkat ke Lawu pada H-2 pendakian. Rencana awal, peserta pendakian ada 7 orang, tapi kemudian dapet tambahan peserta. Mbah Sandi mengajak satu teman untuk ikut dalam pendakian. Sehingga jumlah peserta bertambah menjadi 8 orang. Yang diajak cewek pula. Hehe..

Daftar peserta adalah saya, Mbah Sandi, Lawe, Monster Jefri, Doni, Eko, Iman Saritem, dan Yekti.

Hari pertama (7 Februari 2013)

Kami berangkat dari Malang via Terminal Landungsari menuju Jombang. Di Jombang kami turun di depan stasiun kemudian lanjut pindah bis menuju Madiun. Ada enam orang yang berangkat bareng. Satu orang lagi (Eko) berangkat dari Pandaan via Surabaya, sedangkan satu orang lagi (Yekti) sudah menunggu di Madiun.

Awal perjalanan sudah seru. Di Terminal Landungsari, beberapa dari kami hampir ditinggal bis karena bis sudah waktunya berangkat sedangkan teman-teman masih menunaikan ibadah sholat Ashar. Lewat perjuangan keras berwujud lari mengejar bis, akhirnya bisa juga kami berenam bisa naik bis bareng. Dari Malang kami turun di Stasiun Jombang sekitar pukul 19.00 untuk ganti bis menuju Madiun. Ketika turun di Stasiun Jombang, salah seorang dari kami dompetnya hilang. Kecopetan. Sedih, tapi kejadian itu tidak menyurutkan niat kami untuk meneruskan perjalanan. Kami sampai di Terminal Purboyo Madiun sekitar pukul 21.00. Disana sudah ada beberapa teman dari Bramastya yang menjemput kami. Bramastya ini adalah organisasi pecinta alam dari SMA 2 Madiun.

Berkunjung ke Madiun belum sah kalau belum makan pecel. Madiun memang terkenal dengan pecel. Malam itu juga kami mencoba salah satu warung pecel yang populer. Letaknya di samping Carrefour Madiun, judul warungnya “Warung Mbokne Gito”. Nasi pecel ditambah dengan paru dan babat sungguh pas mengisi perut di malam hari. Setelah makan, kami ngopi dulu bersama teman-teman dari Bramastya hingga pukul 02.00. Kami menginap di rumah Mbah Sandi. Rencana awal, kami berangkat menuju basecamp untuk naik ke Lawu via Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar pukul 08.00.

………

Sementara itu, Eko yang sedang dalam perjalanan ke Madiun via Surabaya juga sedang apes. Bis yang ditumpanginya mogok di tengah jalan. Dia dan penumpang lain sampai harus mendorong bis tersebut hingga beberapa puluh meter. Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya Eko sampai juga di Madiun sekitar pukul 03.00

Hari Kedua (8 Februari 2013)

Gambar
Pose dulu sebelum berangkat ke Cetho @ Rumah Mbah Sandi

Rencana awal tidak berjalan dengan mulus. Kami baru berangkat dari Madiun menuju Cetho sekitar pukul 11.00 dengan mobil sewaan (Panther) seharga Rp500.000,00. Perjalanan yang bisa dibilang jauh. Dari Madiun kami menempuh sekitar 3,5 jam. Melewati perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah karena Karanganyar berada di Jawa Tengah. Panorama indah tersaji saat di Karanganyar. Memanjakan mata. Setelah perjalanan yang penuh dengan tanya kiri kanan karena tidak ada yang tahu jalan, akhirnya kami sampai juga di Cetho. Waktu menunjukkan pukul 14.30. Hal pertama yang kami lakukan adalah registrasi peserta. Biayanya murah, 24 ribu untuk 8 orang. Karena belum sempat sarapan, kami menyempatkan makan dulu di warung sekitar Candi Cetho. Mie goreng double plus telor rebus mengisi perut kami siang itu.

Dari 8 orang, 4 diantaranya baru pertama kali melakukan pendakian termasuk saya. Persiapan saya sangat tidak matang. Saya hanya membawa baju dan celana. Sleeping bag, matras, sarung tangan, sendal/sepatu gunung saya tidak punya. Saya hanya memakai sendal Alfamart. Jas hujan pun lupa saya bawa. Untung di warung tempat kami makan menjual jas hujan dari plastik seharga 5 ribuan. Sleeping bag dan matras pinjam ke teman-teman Bramastya.

Di Gunung Lawu terdapat tiga puncak yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Puncak tertinggi yaitu Hargo Dumilah dengan ketinggian 3.265 mdpl. Kami lewat jalur Candi Cetho dengan titik awal/basecamp yang berada di ketinggian sekitar 1.460 mdpl. Untuk menuju puncak, kami harus menempuh sekitar 1.800 meter vertikal. Ada 6 pos yang akan kami lewati nantinya.

SAM_0292
Candi Cetho

Sebelum mulai mendaki, kami menyempatkan untuk melihat-lihat dan berfoto di Candi Cetho. Selain Candi Cetho, di daerah ini ada beberapa candi lain seperti Candi Sukuh, Candi Kethek dan Candi Saraswati. Dilihat dari bentuknya, Candi Cetho adalah candi peninggalan kerajaan Hindu.

Target kami untuk hari ini adalah sampai di Pos III. Kami akan mendirikan tenda disana karena Pos III cukup luas untuk menampung kami. Hitungan kasar dari Mbah Sandi, tiap pos akan ditempuh dalam waktu 1,5 jam.

SAM_0357
Treknya Ampun
DSC_5836
Sisa kebakaran + Kabut = Twilight

Di perjalanan menuju Pos I kami melewati Candi Kethek dan menyempatkan diri sejenak untuk berfoto. Trek menuju Pos I cukup landai. Meskipun begitu, kami sudah ngos-ngosan (kecuali Mbah Sandi) ketika sampai di Pos I. Sampai di Pos I, kami memakan waktu sekitar 45 menit. Tak beristirahat lama, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos II. Trek sudah mulai menanjak namun tidak terlalu curam. Bagi saya dan teman-teman newbie yang lain, trek seperti itu sudah cukup berat. Seringkali kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan minum. Berjalan sekitar satu jam, kami sampai di Pos II, Cemoro Dowo. Disini kami juga tidak beristirahat terlalu lama karena kami mengharapkan bisa sampai di Pos III sebelum gelap. Trek dari Pos II menuju Pos III ini sangat berbeda dibandingkan dengan trek sebelumnya. Tanjakan yang curam dan tidak ada bonus sama sekali. Pohon tumbang menghalangi jalan banyak sekali. Pohon-pohon berwarna hitam bekas kebakaran hutan masih terlihat. Di tengah jalan, saya beruntung mendapat sunset yang bagus. Hari mulai gelap, headlamp mulai digunakan. Di perjalanan menuju Pos III ini mulai terbentuk grup. Grup Depan ada Jefri dan Mbah Sandi. Grup Tengah ada saya, Eko dan Doni. Semuanya newbie dan kami menamai grup kami sebagai Grup Kura karena lambat. Dan di Grup Belakang ada Iman, Yekti dan Lawe (sweeper). Penuh perjuangan keras bagi kami untuk mencapai Pos III. Sekitar pukul 18.30 akhirnya kami sampai di Pos III.

Gambar

DSC_5792
BREAK!!

Disinilah mulai ada masalah. Sebelumnya, kami mengira di Pos III akan ada sumber air yang berasal dari pipa bocor. Karena sudah yakin ada air di Pos III, perjalanan dari basecamp menuju Pos III sangat boros air. Ketika sampai di Pos III, Mbah Sandi mengecek pipa bocornya dan ternyata airnya tidak mengalir. Sedangkan persediaan air kami tinggal 2 botol saja dari 8 botol ukuran 1500 ml yang kami bawa. Akhirnya disepakati bahwa air yang tersisa akan dibagi. Setiap grup mendapat sekitar 500 ml. Karena tidak ada air, malam itu kami tidak memasak nasi. Untuk mengganjal perut, kami makan roti isi ayam yang dibawa Yekti. Kami mendirikan tiga tenda disana. Udara mulai dingin dan kami membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Pukul 22.00, kami sudah mulai terlelap semua.

Bersambung ke Chapter II

Iklan

2 thoughts on “Lawu 3.265 mdpl via Candi Cetho (7 – 10 Februari 2013) : Chapter I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s