Insyaallah di Indonesia


A: Nanti malem ngumpul-ngumpul yuk di tempat biasa. Oke oke.

B: Insyaallah ya

A: Yah, jangan Insyaallah dong

B: Ya kalo gue nggak dateng, berarti gue nggak diijinin ngumpul sama Tuhan 😀

 

Pernah mengalami kejadian seperti penggalan percakapan diatas? sebagai A atau sebagai B? Saya pernah mengalami sebagai dua-duanya.

Pernah mengalami kejadian seperti penggalan percakapan diatas? sebagai A atau sebagai B? Saya pernah sebagai dua-duanya.

Penggunaan Insyaallah dalam kehidupan sehari-hari sudah jamak terjadi. Motifnya pun bermacam-macam. Motif penggunaan Insyaallah yang paling sering saya jumpai adalah motif penolakan secara halus. Mungkin ada rasa sungkan untuk mengatakan tidak ketika ada undangan, ajakan, janji atau hal lain. Dan cara paling halus untuk menolak (katanya) adalah menggunakan Insyaallah. Ketika akhirnya tidak bisa datang ke undangan atau janji tidak bisa dipenuhi, mereka cukup menggunakan alasan ini untuk membuat semuanya benar, “tidak diizinkan sama Tuhan”. Seperti menyalahkan Tuhan secara halus.

Tuhan disalahkan atas hal yang sebenarnya kita tidak ada niat untuk melakukannya. Dilihat dari artinya, Insyaallah memiliki arti dan niat yang mulia yaitu “jika Allah menghendaki”. Insyaallah adalah ucapan penegas kepastian dan keyakinan yang disatukan dalam kepasrahan kepada Tuhan. Bukan pembenaran atas keragu-raguan. Kita memang tidak tahu apa yang terjadi di masa mendatang, baik itu 10 menit, satu hari, sebulan, atau setahun kedepan. Semua itu adalah hal yang ghaib, rahasia Tuhan. Kita boleh berkehendak, tapi yang menentukan hasil akhir adalah Tuhan. Menggunakan Insyallah ketika kita tidak ingin melakukan/menolak suatu hal jelas merupakan penyalahgunaan. Sayang sekali ketika Insyaallah  dipelintir dan digunakan sebagai alat pembenaran kemalasan memenuhi janji.

Bahkan saking gemesnya dengan penolakan yang menggunakan Insyaallah, seorang teman pernah berkata bahwa Insyaallah-nya orang Indonesia itu 90 persen nggak jadi. Melecehkan agama? Tidak juga. Dia hanya menyimpulkan sesuatu yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari, di Indonesia tentunya. Dalam percakapan diatas, Si A adalah contoh orang yang sudah kebal/bosan dengan penolakan berkedok Insyaallah. Begitu bosannya sehingga dia menolak ketika Si B mengatakan Insyaallah. Memang, ketika dihadapkan pada keragu-raguan untuk memilih menolak atau menerima suatu ajakan, jawaban instan yang biasanya keluar adalah Insyaallah. Simple, aman, dan membawa nama Tuhan.

Satu lagi, Insyaallah di Indonesia seringkali tidak jelas. Contoh konkritnya seperti ini:

A: Nanti malem ngumpul-ngumpul yuk di tempat biasa. Oke oke.

B: Insyaallah ya

A: Insyaallah dateng apa Insyaallah nggak dateng nih?

B: Pokoknya Insyaallah aja 😀

See the difference? Dalam percakapan diatas, Insyaallah Si B tidak jelas menurut Si A. Asumsikan Si B tidak berniat untuk datang. Sebenarnya sama saja, penolakan secara halus. Tapi di percakapan kedua, Si B berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak memenuhi janji. Bisakah dibenarkan hal seperti ini?

Tulisan ini hanya sekedar opini saya. Pada kenyataannya, secara sadar ataupun tidak sadar saya pun masih sering menggunakan Insyaallah sebagai cara penolakan. Bagaimana dengan anda?

Pangkalpinang, 27 Oktober 2011

Iklan

Lu-Gue, Saya-Kamu, Ente-Ane, Aku-Koen


Katakanlah lu gue punya Jakarta. Dan jancuk punya Surabaya (Jatim). Lantas apakah orang yang berasal dari luar dua daerah itu tidak boleh menggunakannya? – Budi Rustanto ( @boeingr )

Penggunaan lu gue sebagai pengganti aku kamu atau saya anda sudah jamak terjadi di kehidupan sehari-hari. Bukan hanya digunakan oleh orang Jakarta saja yang notabene adalah daerah asal penggunaan lu gue, tapi juga oleh orang-orang luar Jakarta. Saya orang Jawa dan saya termasuk orang yang menggunakan lu gue dalam bahasa sehari-hari. Tentu saja dengan melihat daerah asal lawan bicara dari mana. Kalau lawan bicara asalnya dari Jawa juga, saya tentu menggunakan aku koen/sampeyan/awakmu. Lebih akrab.

Yang saya herankan, masih ada saja yang mencibir dan mempermasalahkan penggunaan lu gue oleh orang yang berasal dari luar Jakarta. Ada yang bilang sombong, sok gaul dan tidak menghargai budaya/daerah asal. Padahal lu gue hanyalah pengganti aku/saya  kamu/anda dalam bahasa Jakarta. Lantas apa hubungannya menggunakan lu gue dengan sombong, tidak menghargai budaya, dll?

Sebenarnya masalah ini hanyalah  masalah pilihan. Kenapa harus dipermasalahkan? Setiap orang tentu punya preferensi masing-masing. Dulu ketika saya kuliah di STAN, walaupun letak kampusnya di Jakarta tapi mayoritas mahasiswanya berasal dari Jawa. Komunikasi pun lebih banyak menggunakan bahasa Jawa. Tentu saja tidak semua berasal dari Jawa, yang dari Jakarta dan daerah lain banyak juga. Dan komunikasi bukan hanya dengan orang Jawa. Nah disinilah saya membuat pilihan. Saya menggunakan lu gue hanya untuk berkomunikasi dengan lawan bicara yang memakai lu gue. Alasannya, karena menggunakan aku/saya kamu terkesan lebih formal dan intim. Ketika lawan bicara menggunakan aku kamu, saya juga akan mengikutinya. Saya menghormati pilihan mereka, apapun pilihannya.

Saya pernah mendengar cibiran seorang teman sedaerah perihal penggunaan lu gue dalam komunikasi sehari-hari. Saat itu teman sedaerah saya yang lain sedang bicara dengan temannya menggunakan lu gue, teman saya langsung bilang “Sama-sama makan nasi aja pake lu gue”. Saya terkejut mendengarnya, sesempit itukah konteks lu gue? Bukankah karena sama-sama makan nasi itulah siapa saja boleh menggunakan lu gue? Toh tidak ada yang rugi dengan hal itu.

Mengutip tweet seorang teman ( @boeingr ) yang pernah berkata “Katakanlah lu gue punya Jakarta. Dan jancuk punya Surabaya (Jatim). Lantas apakah orang yang berasal dari luar dua daerah itu tidak boleh menggunakannya?”. That’s the point.

Continue reading “Lu-Gue, Saya-Kamu, Ente-Ane, Aku-Koen”