A Journey to Pineapple Island (Pulau Nanas)


Begitu ada kabar cuti bersama di hari kejepit, saya langsung kaget. Gimana nggak kaget, jatah cuti kepotong tapi nggak bisa pulang karena pengumuman yang terlalu mendadak, sekitar H-1. Harga tiket udah keburu mahal. Saya akhirnya mengisi liburan dengan pergi ke Pulau Nanas bersama teman sekantor sekaligus serumah saya, Elwi. Saya memilih ke Pulau Nanas karena namanya yang aneh dan penasaran dengan apa yang ada disana. Banyak nanas-kah? Atau ada Spongebob? Spongebob kan tinggal di rumah yang bentuknya nanas. Perjalanan yang sebetulnya tidak mendadak, saya baru bangun jam 10.00 WIB di hari Minggu dan 10.30 WIB kita sudah berangkat.

Hari sebelumnya saya mencoba mencari info tentang Pulau Nanas. Selama ini saya hanya mengetahui Pulau Nanas ada di Kab. Bangka Barat, itupun dari kalender 2011 milik Depdikbudpar. Googling nggak ada gunanya, nggak ada info yang bisa didapat sama sekali. Bahkan di situs Visit Babel hanya ada nama Pulau Nanas sebagai salah satu objek wisata tapi nggak ada keterangan apa pun di dalamnya.

Peta Pulau Bangka
Peta Pulau Bangka

Akhirnya kita berangkat modal nekat saja berbekal info dari teman asli Bangka di kantor yang bilang  “kalau mau ke Pulau Nanas bisa ditempuh lewat dua tempat, Belinyu (Kab. Bangka) dan Parittiga (Kab. Bangka Barat)”. Kita pilih lewat Belinyu karena lebih dekat dari Pangkalpinang, sekitar 2 jam perjalanan. Inilah pertama kalinya saya maupun Elwi pergi ke Belinyu. Benar-benar nggak tau jalan, Cuma tau jalan sampai Sungailiat saja. Setelah bersusah payah mencari jalan, tanya kesana kemari, akhirnya bisa juga sampai di Belinyu. Cukup besar  kotanya, bisa jadi kabupaten sendiri sebenarnya. Sepintas lebih ramai daripada Toboali atau Koba.

Dari hasil tanya menanya dengan penduduk kita dapet clue bahwa ada 2 pelabuhan di Belinyu. Karena nggak tau pelabuhan yang mana, kita coba salah satu. Ternyata itu adalah pelabuhan nelayan! Salah alamat woi. Disana Cuma ada orang2 sedang mengangkut ikan segar keatas mobil pick up. Oke, dapet info lagi kita harus ke pelabuhan satunya, dan salah lagi. Itu adalah pelabuhan kapal barang. Ternyata pelabuhan buat kapal penumpang ada di sebelahnya lagi.

Ternyata kita harus men-carter kapal karena nggak ada kapal yang menuju ke Pulau Nanas. Rute kapal disini ternyata hanya ke Parittiga. Setelah tawar menawar, dapet deal di harga 300 ribu. Itungan saya sih udah lumayan lah, perjalanan ke Pulau Nanas sekitar 45 menitan lho dan ditungguin. Setelah deal, dengan gobloknya saya dan Elwi baru sadar ternyata nggak bawa duit. Masing-masing cuma bawa duit sekitar 70 ribu. Balik lagi deh ke kota buat ngambil duit. Untung ada ATM Bersama, terimakasih yang sudah bikin ATM kerjasama antar bank ini.

Sekitar jam 3 saya dan Elwi mulai naik kapal. Daaan…hujan. Yes, masinis kapalnya nggak berani bawa kapal saat hujan. Bahkan penumpang kapal lain yang menuju Parittiga juga turun lagi. Selama menunggu hujan, saya dan Elwi mencoba sesuatu di kapal, mengeluarkan air laut yang masuk ke dalam kapal. Ada alat sederhana yang bekerja menyedot air yang masuk ke kapal dengan cara dimasukkan kemudian ditarik dengan membawa air. Terbuat dari beberapa pipa yang diikat dengan karet ban. Setelah hujan reda, dapet lagi kejutan, penumpang kapal lain yang ke Parittiga jadi satu kapal dengan saya dan Elwi. “Hei hei, kapal ini kan udah dicarter!” ego saya berkata begitu. Tapi nggak saya luapkan karena maklum dengan kondisi dan situasi. Masinis kapal masih kecil, mungkin sekitar 15-an usianya. Jadi ingat lagu Iwan Fals – Sore Tugu Pancoran yang liriknya “Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu….”. Ketika saya bertanya tentang Pulau Nanas, si masinis bilang bahwa dia nggak tahu rute kesana. Haaah!!

Masinis kapal akan melempar jangkar
Masinis kapal akan melempar jangkar

Kaget juga dengernya, ternyata dia ditemani seseorang yang sudah expert di jalur per-Pulau Nanas-an. Huff..lega. Saya terkesan sekali saat para masinis ini menaikkan motor penumpang ke atas kapal. Mereka hanya pake sebuah papan untuk menaikkan motor. Dan dengan sukses tiga buah motor berjajar di bagian depan kapal. Saat menurunkan motor juga sama begitu, hanya memakai sebuah papan. Langsung ke pasir pantai lho menurunkannya, jadi saat motor dibawa ke atas, pasir akan muncrat dari ban belakang motor.

Elwi dan alat penyedot air dari kapal
Elwi dan alat penyedot air dari kapal

Setelah menurunkan penumpang lain, kapal akhirnya menjadi milik saya dan Elwi. Walaupun sudah kelihatan pulaunya, ternyata kesana butuh waktu sekitar 30 menit. Pulau Nanas sendiri sering dipakai buat kemah, bulan sebelumnya juga sering orang bepergian kesana. Dahulu ada yang menghuni Pulau Nanas untuk berkebun, tapi menurut masinis kapal sekarang sudah tidak ada penghuninya.

Akhirnya sampai juga di Pulau Nanas. Kesan pertama, pantainya kotor. Banyak bekas oli dan sampah berserakan. Pulau Nanas kecil sih, kalau mau mengitari pulau mungkin nggak sampai setengah jam jalan kaki. Kita memutuskan untuk keliling pulau kosong itu sambil foto-foto. Ketika akan memutar melewati karang, terdengar suara aneh mirip auman macan. Karena parno, kita akhirnya kembali ke kapal dan memutar lewat sisi satunya. Masih penasaran itu suara apa ya? Ombak nggak mungkin karena cuma satu kali aja kedengeran. Dan hujan turun lagi. Saya yang awalnya males basah2an akhirnya topless dan tergelarlah payujaka saya yang montok. Berlari, berteriak, melempar kayu, dan tertawa itulah yang kita lakukan. Bosan, saya dan Elwi tiduran di pantai sambil makan roti ditengah hujan. Serasa satu pulau milik berdua (I’m not gay!!!). Gila-gilaan sepanjang sore itu seakan melepas stres selama ini. Sempat juga kepikiran bikin video ala Coldplay – Yellow, berjalan di sepanjang pantai. Niat sebenarnya sih nunggu sunset disini, tapi karena kasian sama masinis kapalnya dan cuaca yang tidak mendukung akhirnya kita pulang ketika hari belum gelap. Di perjalanan ke pelabuhan, sunset nampak tidak begitu indah. Masih dengan topless saya nongkrong di ujung depan kapal merasakan angin laut dan suasana kebebasan. Benar-benar merasa bebas.

Pantai di Pulau Nanas
Pantai di Pulau Nanas

Sampai di pelabuhan, saya tersadar masih ada 2 jam lagi perjalanan ke Pangkalpinang naik motor dan giliran saya yang menyetir. Dua jam terasa lama sekali, ditambah dengan kehujanan sepanjang Sungailiat – Pangkalpinang (sekitar sejam). Badan pun sukses hancur. But that’s a real worthy experience. Pulau Nanas dan perjalanannya.

Apa maksudnya ini?
Apa maksudnya ini?

Kejadian lain sepanjang perjalanan:

  1. Ketika sholat dhuhur di Belinyu, saya sholat berdua dengan penduduk lokal dan dia yang menjadi imam. Saya disuruh iqomah, saya iqomah dengan biasa saja seperti yang selama ini saya lakukan. Ternyata reaksinya diluar dugaan. Dia bilang “Nggak jelas!” dan langsung iqomah sendiri dengan suara kenceng dan tegas. Well, kejadian ini sangat memalukan buat saya. T_T
  2. Ketika perjalanan pulang, di Belinyu kita memutuskan untuk makan dulu. Langsung saja saya belok ketika lihat warung, warung otak-otak tepatnya. Dan yang lebih mengejutkan, yang punya warung kenal sama Elwi! Ternyata dia adalah langganan Elwi di Pangkalpinang dan dia baru saja pindah warung ke Belinyu tiga hari yang lalu karena di Pangkalpinang sewa kiosnya terlalu mahal. Bahkan plang warungnya pun masih tertulis Pangkalpinang. Ini pertama kalinya saya dan Elwi ke Belinyu dan sudah punya kenalan??!!!
  3. Lagi-lagi ketika perjalanan pulang. Kondisi jalan cukup berbahaya, banyak perbaikan jalan dan lampu jalan hampir nggak ada. Beberapa kilometer sebelum sampai di kota Sungailiat, motor lagi kenceng jalannya sekitar 80km/j. Di depan kelihatan ada lampu terang banget, ketika dilewati ternyata sedang ada pertandingan basket cewek. Saya dan Elwi spontan teriak “Wohoooo!!” dari atas motor keras banget sampai penonton ngeliatin. Saya langsung putar balik dan menyempatkan nonton sekitar 10 menitan. Pertandingan basket cewek di lapangan basket depan sebuah klenteng yang ditonton mayoritas keturunan Cina. Yang main sih masih kecil, sekitar usia SMP tapi lumayan lah menyegarkan mata (I’m not pedofil!!!)
  4. Ketika nanya rute ke Pulau Nanas sama penduduk lokal di sebuah toko.
    Saya            : Mas, kalau mau ke Pulau Nanas lewat mana ya?
    Mas             : Nggak bisa mas, harus naik kapal.
    Saya            : (Itu mah gw juga tau, namanya juga mau ke PULAU)  Iya, lewat mana?
    Mas             : Nggak bisa mas, nggak satu daratan.
    Saya            : (Udah mulai dongkol nih) Ke pelabuhan dulu kan? Pelabuhannya dimana?
    Mas             : Iya mas (dan akhirnya nunjukin arah ke pelabuhan)
Perjalanan pulang diatas kapal
Perjalanan pulang diatas kapal
Karang di Pulau Nanas, di seberang karang ini terdengar auman macan
Karang di Pulau Nanas, di seberang karang ini terdengar auman macan

Pangkalpinang, 2 Juli 2011

Iklan

16 thoughts on “A Journey to Pineapple Island (Pulau Nanas)

  1. hahaha, senang juga. walaupun ternyata pulaunya jauh dari harapan. tapi perjalanannya menyenangkan. mulai dari janji yang 3 hari belum kejadian ( berangkatnya pagi ndik !) lo main game mulu malam nya. hehe. akhirnya hari terakhir berangkat dengan modal tas . (kenapa bawa tas 2 ya? kaya mister bean ) . well . target berikutnya apa yah?

    1. yees, kemana yak enaknya? gw pengen ke ini sih, Pesanggrahan Menumbing. Sama sekalian ke Tanjung Ular. Kalo rame2 mantep tuh touring kesana. Wuihihi

  2. kok nggak ditanya pendapat dan kesan si masinis kapal tentang ulah mesar kalian berdua di pulau yang sepi hiiiiiiiiiii…………..

  3. Guys!
    Untuk lebih gampang,kepulau Nanas itu.anda bisa datang kedesa pusuk kec.kelapa.kalau sudah nyampe…anda bisa tanya ”pak kmi mau ke pulau nanas.,cranya gmna?”nanti org yg anda tanya itu akan membantu anda.
    SELAMAT LIBURAN DI PULAU NANAS.
    Aku udah pernah ke pulau nanas,pantainya itu krens,ombaknya pun bershabat.

  4. Pulau nanas adalah pulau yang dulunya berpenghuni sebagai perkebunan dan peternakan, pulau nanas terdiri dari 2 pulau, pulau besar dan pulau kecil.
    pulau besar yang di jadikan sebagai perkebunan dan peternakan. sampai sekarang masih ada sisa dari seperti pohon mangga dan jambu air. pulau kecil dahulu kala pada jaman penjajahn belanda di jadikan sebagai gudang misiu, sekarang ini masih ada sisa bangunan yang hanya tinggal puing batu bata sebatas pondasi rumah. pulau kecil sering di jadikan wisata pada hari -hari libur, dan pemilik pulau biasanya berkunjung ke sana pada libur lebaran. selebihnya warga belinyu, bakit, pusuk sering kemping di sana.

    1. menurut info penduduk sekitar, masih ada satu orang yang tinggal disana, tapi tidak menetap. Dia hanya bercocok tanam saja di pulau nanas. Btw, nice info bro 😀

  5. oh ya samping pulau besar terdapat pulau yang banyak bebatuan dipanggil dengan sebutan pulau putri. pulai tersebut tidak bisa disandar oleh perahu karena pulau tersebut dikelilingi oleh bebatuan. dahulu penghuni pulau sering mengambil tiram di bebatuan dengan cara “netek tirem atau netek teritip”.

    by the way i love pulau nanas..
    pulau nanas is beautifull island.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s