Tanjung Kaliyan, Pantai Dengan Bangkai Kapal Perang Dunia II


Banyak sekali objek wisata di Kepulauan Bangka Belitung terutama wisata pantai. Pantai di Pulau Bangka dan Pulau Belitung memang bagus, masing-masing mempunyai keunikan tersendiri. Dan kali ini saya berkesempatan mengunjungi salah satu pantai di pulau Bangka. Tepatnya di Kabupaten Bangka Barat yaitu Pantai Tanjung Kaliyan.

Tanjung Kaliyan merupakan titik terdekat pulau Bangka dengan pulau Sumatera. Disini juga terdapat pelabuhan penyeberangan ke Palembang. Nama pelabuhannya sama dengan nama pantainya, Pelabuhan Tanjung Kaliyan. Kebetulan saya sudah pernah menyeberang ke Palembang naik kapal dari sini bersama dengan teman-teman kantor.

Kabupaten Bangka Barat bisa ditempuh selama kurang lebih 2 jam perjalanan mobil dari ibukota provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pangkalpinang. Moda transportasi umum yang ada hanya berupa bis yang bentuknya nggak jauh dari Kopaja. Jalan menuju Muntok, Ibukota Kab. Bangka Barat tidak terlalu sulit. Trek lurus dengan banyak hutan di sepanjang jalan. Rute dari Muntok ke Tanjung Kaliyan cukup sulit. Harus banyak bertanya kalo nggak ingin nyasar.

Pemandangan dari atas mercusuar Tanjung Kaliyan

Keunikan Pantai Tanjung Kaliyan ini adalah terdapat mercusuar kuno peninggalan jaman Belanda. Mercusuar tersebut masih berfungsi sampai saat ini. Para pengunjung bisa mencoba masuk kedalam mercusuar dengan membayar tiket seharga Rp SEIKHLASNYA,- ke penjaga mercusuar. Didorong rasa penasaran, saya mencoba untuk masuk ke dalam. Setelah tanya ‘bayar berapa’ ke penjaga mercusuar (kena goceng doang) saya pun dibukakan pintu untuk menuju ke atas mercusuar. Karena memang sepi, saya sendirian naik keatas. Untuk menuju ke puncak mercusuar saya harus menaikin tangga melingkar selama kurang lebih 10 menit. Sempet ketipu juga waktu awal naik tangga langsung tancap gas. Nyampe tengah-tengah mercusuar udah ngos-ngosan, ternyata jauh juga naiknya. Dari atas mercusuar dapat dilihat panorama pantai, pelabuhan dan bangkai kapal jaman Perang Dunia II. Anginnya besar banget diatas, tapi tidak menghalangi untuk foto-foto narsis sebentar. Di bagian paling ujung mercusuar terdapat lampu pemancar yang digunakan di malam hari. Pengunjung tidak boleh masuk ke lantai tempat lampu, mentok hanya satu lantai di bawah lampu. Mercusuar ini buatan Inggris, dapat dilihat dari tulisan ….Co Nottingham di besi mercusuar. Sayangnya seperti mayoritas tempat wisata di Indonesia, tembok-tembok mercusuar sudah penuh dengan tulisan yang cukup annoying untuk dilihat. Tapi tidak mengurangi kepuasan berada di atas mercusuar.

Sunset dari lubang bangkai kapal Perang Dunia II

Keunikan yang lain adalah di Pantai Tanjung Kaliyan ini terdapat bangkai kapal pada masa Perang Dunia II. Kapal tersebut dibom oleh Jepang dan terdampar di Pulau Bangka. Sebagai bentuk penghormatan, didirikan sebuah monumen untuk mengenang kejadian itu yang berisi nama-nama penumpang kapal beserta negara asalnya, dan juga tanggal pengeboman. Semula saya mengira kapal itu adalah kapal perang yang isinya adalah tentara, ternyata saya salah duga. Kapal itu ternyata kapal perawat alias kapal palang merah. Gila, kapal palang merah dibom juga, emang perang nggak mengenal temen. Seperti kata pepatah, everything is fair in love, war and business

Bangkai kapal itu sudah terpisah menjadi 3 bagian. Menurut info dari seorang teman, 2 tahun yang lalu bangkai kapal itu masih utuh. Sempet menyayangkan juga sih kenapa nggak dirawat meskipun itu cuma ‘bangkai’ tapi bisa jadi objek wisata yang menarik.

Puas menikmati hari di mercusuar dan menyusuri pantai, kini tiba saatnya kuliner. Banyak penjual makanan dan minuman di tepi pantai. Yang khas disini adalah otak-otak bangka, banyak sekali yang berjualan di pantai. Harganya nggak mencekik kok, normal saja. Ditambah kelapa muda langsung dari buahnya. Wow, perfecto. Menikmati otak-otak dan kelapa muda sembari menunggu sunset di Tanjung Kaliyan.

Sunset di Tanjung Kaliyan cukup bagus meski nggak sebagus Akkarena di Makassar. Beberapa foto yang sempat saya ambil menunjukkan keindahannya. Pantai yang putih, pencari ikan di pinggir pantai ditemani bangkai kapal menghiasi sore itu. Overall, Pantai Tanjung Kaliyan cukup memuaskan. Tidak ada salahnya menyempatkan diri untuk berkunjung kesana.

Sunset di Pantai Tanjung Kaliyan
Sunset di Pantai Tanjung Kaliyan
Menikmati kelapa muda di tepi pantai sembari melihat sunset

Pangkalpinang, 20 Juni 2011

Iklan

2 thoughts on “Tanjung Kaliyan, Pantai Dengan Bangkai Kapal Perang Dunia II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s