Laskar Pelangi Jaman Sekarang


Laskar Pelangi, sebuah karya sastra yang sangat fenomenal. Sebuah memoar dari Andrea Hirata yang memberi banyak sekali pelajaran tentang kehidupan. Satu hal yang paling menonjol adalah mencari ilmu itu tidak mudah, asalkan ada kemauan dan pengorbanan ilmu bisa didapatkan.

If there is a will, there is a way…

Setting lokasi Laskar Pelangi ada di Bangka Belitung, tepatnya di Manggar, Belitung Timur. Kebetulan saya bekerja di Pangkalpinang, ibukota Provinsi Bangka Belitung. Setidaknya masih satu provinsi lah sama Belitung Timur. Dan kebetulan juga beberapa bulan yang lalu saya mengaudit Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan di Kab. Bangka Selatan. Tugas itu mengharuskan saya untuk terjun langsung ke Sekolah Dasar disana. Saya jadi bisa mengamati keadaan sekolah-sekolah yang ada di pelosok kota. Jauh dari kota dan harus melewati hutan selama beberapa kilometer. Ternyata, berselang lebih dari 20 tahun sejak kejadian Laskar Pelangi keadaan yang ada disana tidak jauh beda. Setidaknya untuk skala jaman sekarang, era millenium.

Sekolah yang pertama kali saya kunjungi adalah SD 18 Paku. Perjalanan kesana ditempuh sekitar 2,5 jam dari pusat kota Toboali. Sekolah ini belum pernah mendapatkan DAK Bidang Pendidikan selama beberapa tahun, maka dari itu saya teman saya berangkat untuk melihat keadaan sekolah ini, sekaligus mengklarifikasi hal tersebut ke pihak sekolah. Saat sampai disana saya terkejut dengan keadaan sekolahnya. Tidak sehancur SD Muhammadiyah di Laskar Pelangi, tapi kondisinya bisa dibilang memprihatinkan. Ruang kelas kurang, tidak ada perpustakaan, tidak ada UKS, tidak ada ruang guru dan toilet hancur. Itulah gambaran kondisi SD 18 Paku. Tenaga pengajar pun kurang dan dari sedikit itu hanya 2 orang yang PNS, termasuk Kepala Sekolah. Satu ruang kelas dikorbankan untuk digunakan sebagai ruang guru. Saat dikonfirmasi mengenai DAK, saya mendapat info bahwa sekolah ini baru mendapat SK Definitif pembentukan sekolah pada tahun 2010. Itulah mengapa mereka belum bisa mendapat DAK Bidang Pendidikan untuk tahun-tahun sebelumnya. Kami kemudian mulai mengecek kondisi gedung sekolah satu persatu. Hasilnya tembok retak, atap lobang, pintu hancur, dan lantai bolong-bolong. Meski begitu, kelengkapan kelas seperti gambar pahlawan, nama-nama binatang dan beragam poster lainnya ada, walaupun keadaanya sudah tidak bisa disebut layak. Saat itu masih ada guru yang masih melakukan proses mengajar di kelas 2. Beliau mengajar dengan menggunakan bahasa Flores. Memang mayoritas penduduk di desa ini adalah transmigran dari Flores. Kemudian saya melakukan wawancara dengan beberapa guru, dengan begitu antusias mereka bercerita tentang anak didiknya. Bagaimana mereka datang ke sekolah dengan semangat. Kebanyakan murid rumahnya di tengah hutan, jadi mereka berangkat pagi buta melewati jalan setapak untuk pergi ke sekolah. Hampir tidak ada yang mengenakan sepatu. Sungguh suatu semangat yang luar biasa, saya merasa tertohok. Malu kepada diri sendiri melihat semangat belajar mereka. Salah satu guru kemudian menunjukkan piala hasil prestasi murid mereka yang pernah menjuarai lomba lari tingkat provinsi. Satu hal lagi, listrik belum ada di desa ini sehingga tidak bisa menggunakan alat elektronik di sekolah. Ternyata semangat Laskar Pelangi tetap terpelihara disini.

Di SDLBN Toboali saya mendapatkan pengalaman baru. Bertemu dan bercengkrama para tunagrahita yang sekolah disana. Ada satu anak namanya Rinoy (dia menuliskan namanya begitu) yang hiperaktif sekali. Handphone saya sempat dipinjam buat main game dan tidak mau dikembalikan. Haha. Lucu sekali anak ini. Dan satu hal yang saya apresiasi dari sekolah ini adalah guru-gurunya. Super duper sabar tentunya. Terlihat bagaimana guru-guru ini begitu sayang kepada muridnya tanpa membeda-bedakan. Di dinding kelas terpampang beberapa buah gambar hasil karya murid-murid disini. Mereka begitu bersemangat untuk sekolah.

SD 14 Bangka Kota. Nama desanya boleh ada unsur “kota”, tapi keadaannya jauh sekali dari kota. Gersang, panas dan belum ada listrik PLN. Para warga masih menggunakan diesel untuk keperluan sehari-harinya. Di halaman sekolah, Sang Merah Putih berkibar dengan gagahnya. Guru disini kebanyakan sudah uzur. Beberapa yang saya tanya mengaku berasal dari Jawa. Mereka sudah lama hidup disini, hanya beberapa tahun sekali mereka pulang ke Jawa untuk bertemu sanak famili.

Merah Putih di SD 4 Bangka Kota
Murid di SD 4 Bangka Kota

Sekolah yang kami datangi berikutnya adalah SD 14 Fajar Indah. Disini mayoritas transmigran dari Jawa dan Madura. Sempat kaget juga saat mendengar siswa-siswa disini bicara memakai bahasa Madura. Feels like home. Hehe. Saya sempat memotret beberapa siswa disini. Dan juga pemandangan yang asri di halaman sekolah ini. Lapangan luas dengan rumput yang begitu hijau. Beberapa anjing terlihat berkeliaran di halaman sekolah ini.

Indahnya persahabatan
Sepertinya dia adalah idola di SD ini
Panorama di halaman SD 14 Fajar Indah

Jadwal kami hari itu adalah dua sekolah. Setelah SD 14 Fajar Indah, kami menuju ke tetangganya, SD 15 Fajar  Indah. Karena beberapa hal, kami berada di SD 15 Fajar Indah sampai jam 7 malam. Saat hari mulai gelap, pihak sekolah mulai menyalakan diesel untuk menerangi ruang perpustakaan tempat kami mengecek buku hasil pengadaan DAK Pendidikan. Ternyata disini belum ada listrik PLN. Lampu ruangan mulai turun naik nyalanya. Sepertinya diesel disini kekurangan minyak. Nyamuk-nyamuk mulai berdatangan. Pihak sekolah kemudian menyalakan obat nyamuk bakar untuk mengusir mereka. Saat itu sedang heboh berita tentang kedatangan Barrack Obama ke Indonesia.  Ah, mereka yang diatas sibuk memikirkan kedatangan Obama. Sementara disini, jauh dari Jakarta, belum ada listrik PLN. Di dinding perpustakaan ini, terlihat foto Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedang tersenyum. Mudah-mudahan bukan senyum untuk mengejek ketertinggalan daerah ini. Ironis sekali, di pulau penghasil timah terbesar di dunia malah kekurangan energi listrik. Mereka yang hidup disini tak ada yang peduli dengan kedatangan Obama. Mereka hidup dengan sederhana, tidak perlu memikirkan yang rumit-rumit, ciri khas orang desa. Kesederhanaan. Karena sudah menjelang maghrib, beberapa orang anak mulai terlihat berangkat mengaji. Sebagian kecil madol dari tempat mengaji. Suasana ini mirip dengan suasana desa saya di Jawa Timur pada awal 90-an.

Di Bangka Selatan ada daerah yang berada di pulau tersendiri, yaitu Kecamatan Lepar Pongok yang terdiri dari Pulau Lepar dan Pulau Pongok. Kebetulan salah satu SD di Pulau Lepar menjadi sampel pemeriksaan kami. Untuk menuju kesana, kami harus naik boat kecil yang hanya muat enam orang. Sekitar 30 menit kami berada diatas boat untuk sampai ke Pulau Lepar. Di perjalanan menuju SD, kami melewati kebun-kebun sawit yang luas. Banyak rumah non-permanen disamping jalan. Menurut penjelasan Kepala Sekolah yang mengantar kami, itu adalah rumah pekerja dari Jawa yang biasanya dikontrak oleh perusahaan sawit disini. Saat pulang dan menyeberang kembali ke Pulau Bangka ada kejadian yang cukup menyeramkan. Boat yang kami tumpangi mendadak mati mesin di tengah laut. Hari sudah gelap, hampir maghrib. Pemandangan senja dari atas boat sungguh indah. Akhirnya kami pindah ke boat lain. Ditengah laut. Ya, ditengah laut.

Senja di atas boat
Senja di pelabuhan

Ada beberapa hal yang menurut saya bisa menjadi catatan.

Dalam program pengadaan DAK Pendidikan tersebut, ada barang yang tidak terpakai yaitu komputer multimedia. Kenapa? karena tidak adanya listrik di beberapa desa yang bisa dibilang jauh dari kota. Untuk menyalakan komputer saja tidak bisa, apalagi mengoperasikannya. Mubadzir sekali. Komputer di beberapa sekolah teronggok begitu saja di sudut perpustakaan beserta CD Multimedia Interaktif. Di salah satu sekolah, saya mencoba memutar CD Multimedia Interaktif itu. Ada beberapa paket, paket IPA, paket Matematika, paket IPS, bahkan ensiklopedia semua provinsi di Indonesia. Satu paket berisi lebih dari 20 CD. Isinya sangat bagus, sangat bermanfaat apabila digunakan dengan maksimal. Jaman saya masih SD dulu tidak ada yang seperti ini. Paling banter RPAL sama RPUL. Sayang sekali CD-CD itu tidak bisa diputar karena kendala non-teknis seperti tidak adanya listrik.

Ada lagi satu sekolah yang menurut saya aneh mengenai kebijakan perpustakaannya. Siswa dari kelas 1-6 sudah dijadwal hari apa saja mereka bisa berkunjung ke perpustakaan. Hanya satu kali dalam 2 minggu selama 30 menit. Maksimal dalam satu hari yang berkunjung ke perpustakaan adalah 20 orang. Lucu sekali, mereka dibatasi untuk membaca. Ketika bertemu dengan Kepala Sekolah, semua keanehan itu terjawab sudah. Ternyata beliau tipe Kepala Sekolah diktator. Masih ada saja tipe pengajar seperti itu. Pembatasan jam berkunjung itu kontras sekali dengan sekolah saya dulu. Siswa dibebaskan mengurus perpustakaan, guru bertugas mengawasi. Saya sempat menjadi petugas perpustakaan secara sukarela dulu. Menyenangkan sekali.

Novel dan film Laskar Pelangi ternyata bukan hanya potret pendidikan di Indonesia dulu, tapi juga sekarang dan mungkin beberapa tahun ke depan.

Pangkalpinang, 7 Maret 2011

*saya melakukan audit sekitar bulan Oktober-November 2010

Iklan

4 thoughts on “Laskar Pelangi Jaman Sekarang

  1. wow! sepertinya jadi AudiTour sungguh menyenangkan setelah baca pengalaman km. membuka mata lebar2. nambah pengalaman sekaligus memperkaya sensor empati di hati kita.
    nice wrote. keep writing.

    *bangganya punya temen kyk km. . . 🙂

    1. wooo, dibaca juga ya. Haha.
      Banyak sih lainnya yg pengen ditulis, tapi gak dapet feelnya. Gak selese2 tuh tulisan. Gak produktif nih sekarang. Haha

      Makasih ya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s