Belinyu: Tanjung Penyusuk dan Pantai Romodong


Hari ibur Natal sepanjang tiga hari kemarin saya manfaatkan untuk pergi tamasya (jiah, bahasanya) ke Belinyu, tepatnya ke Tanjung Penyusuk dan Pantai Romodong. Belinyu masih termasuk dalam kawasan Kabupaten Bangka. Letaknya yang cukup jauh dari Sungailiat, ibukota Kab. Bangka, membuat adanya wacana akan dibentuk Kabupaten baru yaitu Bangka Utara dengan Belinyu sebagai ibukotanya. Perjalanan ke Belinyu bisa ditempuh dengan jalan darat dengan waktu tempuh kurang lebih 2 sampai 3 jam dari Kota Pangkalpinang. Lokasi Tanjung Penyusuk dan Pantai Romodong sendiri dekat dengan lokasi pelabuhan tempat saya menyeberang ke Pulau Nanas. (Lihat tulisan saya A Journey to Pineapple Island).

Hari Minggu, 25 Desember 2011 saya dan 8 orang teman kantor berangkat ke Belinyu dengan menggunakan mobil Avanza. Bisa dibayangkan bagaiman uyel uyelannya di dalam mobil yang disesaki 9 orang dengan beberapa orang bertubuh jumbo. Piss Mbak Citra, Pret dan Aris :D . Dari Pangkalpinang kami berangkat pukul 11.30. Setelah istirahat untuk makan dan sholat dhuhur di Sungailiat, akhirnya kami sampai di Tanjung Penyusuk pukul 14.00. Ternyata disana sedang ramai pengunjung, wajar sih karena sedang liburan. Ditambah lagi cuaca sedang tidak bersahabat dan air laut yang kotor tercemar limbah timah, kenikmatan dalam menikmati indahnya Tanjung Penyusuk terasa kurang nikmat (banyak amat kata nikmat??). Tanjung Penyusuk terkenal dengan batu batuan vulkanik besar yang tersebar di sepanjang pantai. Kalau anda pernah menyaksikan film Laskar Pelangi seperti itulah batu batu besar di pantai yang saya maksud. Saya hanya bisa mengagumi pemandangan ini. Lanskap yang indah membuat saya betah sekali berada disana. Duduk di atas batu dan merasakan angin laut menjadi obat penghilang beban. Rasanya bebas sekali. Selain batu vulkaniknya, Tanjung Penyusuk juga terkenal dengan adanya mercusuar yang ada di Pulau Lampu, pulau di dekat Tanjung Penyusuk. Kami tidak sempat ke Pulau Lampu karena sudah terlalu sore dan cuaca yang mendung.

Tanjung Penyusuk

Diatas batu besar berdua

Menanti Norman

Setelah puas di Tanjung Penyusuk, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Romodong. Letaknya tidak terlalu jauh dari Tanjung Penyusuk, sekitar 10 menit perjalanan. Sebelum masuk ke Pantai Romodong, kami disambut batu kembar berukuran besar yang nampak seperti gerbang masuk menuju Pantai Romodong. Di batu kembar itu kami kembali berfoto ria mengabadikan momen dengan gaya yang cukup tidak jelas. Pantai Romodong sendiri tidak terlalu bagus jika dibandingkan dengan Tanjung Penyusuk, namun pasir di pantai ini cukup enak. Sayang, saat kami kesana pantai dalam keadaan kotor. Banyak sekali sampah di pantai. Cukup disayangkan, obyek wisata yang sebenarnya potensial dibiarkan tidak terawat.

Batu Kembar, pintu gerbang Pantai Romodong

Medusa dan Mamah Dedeh

Setelah itu kami kembali ke kota Belinyu untuk menyantap otak otak. Yap, Belinyu memang terkenal dengan otak otaknya yang lezat. Banyak warung otak otak yang tersebar di sepanjang jalanan Belinyu. Pilihan kami jatuh ke warung otak otak di pinggir jalan dekat Sekolah Dasar. Bentuk warung dari luar tidak terlalu bagus bahkan cenderung terlihat kotor. Namun rasa otak otaknya sangat dahsyat. Enak. Satu bungkus otak otak dijual dengan harga Rp2.000,00, cukup mahal dengan ukuran sekecil itu. Tapi tanpa sadar anda akan menghabiskan 10 sampai 20 bungkus sendirian. Giliran bayar baru kaget. Hehe

Otak otak Belinyu, Rp2.000 sebungkus

Otak otak selalu disajikan langsung setelah dibakar

Perjalanan pulang kami lalui dengan santai sambil sesekali bercanda menertawakan pengguna jalan yang lain. Jalan yang cukup mulus karena memang masih baru dibangun membuat perjalanan menjadi lancar. Tapi pembangunan jalan tidak diimbangi dengan penerangan sehingga sepanjang jalan dari Belinyu menuju Pangkalpinang sangat sedikit sekali lampu jalan yang sudah terpasang.

Di Sungailiat kami singgah sebentar untuk menikmati hidangan di Kopi Tiam. Sebuah coffee shop yang menawarkan cukup banyak variasi kopi. Saya mencoba menikmati Kopi Rempah yang ternyata rasanya tidak begitu nendang di lidah saya. Maklum, penggemar cappucino. Hehe

Tanjung Kaliyan, Pantai Dengan Bangkai Kapal Perang Dunia II


Banyak sekali objek wisata di Kepulauan Bangka Belitung terutama wisata pantai. Pantai di Pulau Bangka dan Pulau Belitung memang bagus, masing-masing mempunyai keunikan tersendiri. Dan kali ini saya berkesempatan mengunjungi salah satu pantai di pulau Bangka. Tepatnya di Kabupaten Bangka Barat yaitu Pantai Tanjung Kaliyan.

Tanjung Kaliyan merupakan titik terdekat pulau Bangka dengan pulau Sumatera. Disini juga terdapat pelabuhan penyeberangan ke Palembang. Nama pelabuhannya sama dengan nama pantainya, Pelabuhan Tanjung Kaliyan. Kebetulan saya sudah pernah menyeberang ke Palembang naik kapal dari sini bersama dengan teman-teman kantor.

Kabupaten Bangka Barat bisa ditempuh selama kurang lebih 2 jam perjalanan mobil dari ibukota provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pangkalpinang. Moda transportasi umum yang ada hanya berupa bis yang bentuknya nggak jauh dari Kopaja. Jalan menuju Muntok, Ibukota Kab. Bangka Barat tidak terlalu sulit. Trek lurus dengan banyak hutan di sepanjang jalan. Rute dari Muntok ke Tanjung Kaliyan cukup sulit. Harus banyak bertanya kalo nggak ingin nyasar.

Pemandangan dari atas mercusuar Tanjung Kaliyan

Keunikan Pantai Tanjung Kaliyan ini adalah terdapat mercusuar kuno peninggalan jaman Belanda. Mercusuar tersebut masih berfungsi sampai saat ini. Para pengunjung bisa mencoba masuk kedalam mercusuar dengan membayar tiket seharga Rp SEIKHLASNYA,- ke penjaga mercusuar. Didorong rasa penasaran, saya mencoba untuk masuk ke dalam. Setelah tanya ‘bayar berapa’ ke penjaga mercusuar (kena goceng doang) saya pun dibukakan pintu untuk menuju ke atas mercusuar. Karena memang sepi, saya sendirian naik keatas. Untuk menuju ke puncak mercusuar saya harus menaikin tangga melingkar selama kurang lebih 10 menit. Sempet ketipu juga waktu awal naik tangga langsung tancap gas. Nyampe tengah-tengah mercusuar udah ngos-ngosan, ternyata jauh juga naiknya. Dari atas mercusuar dapat dilihat panorama pantai, pelabuhan dan bangkai kapal jaman Perang Dunia II. Anginnya besar banget diatas, tapi tidak menghalangi untuk foto-foto narsis sebentar. Di bagian paling ujung mercusuar terdapat lampu pemancar yang digunakan di malam hari. Pengunjung tidak boleh masuk ke lantai tempat lampu, mentok hanya satu lantai di bawah lampu. Mercusuar ini buatan Inggris, dapat dilihat dari tulisan ….Co Nottingham di besi mercusuar. Sayangnya seperti mayoritas tempat wisata di Indonesia, tembok-tembok mercusuar sudah penuh dengan tulisan yang cukup annoying untuk dilihat. Tapi tidak mengurangi kepuasan berada di atas mercusuar.

Sunset dari lubang bangkai kapal Perang Dunia II

Keunikan yang lain adalah di Pantai Tanjung Kaliyan ini terdapat bangkai kapal pada masa Perang Dunia II. Kapal tersebut dibom oleh Jepang dan terdampar di Pulau Bangka. Sebagai bentuk penghormatan, didirikan sebuah monumen untuk mengenang kejadian itu yang berisi nama-nama penumpang kapal beserta negara asalnya, dan juga tanggal pengeboman. Semula saya mengira kapal itu adalah kapal perang yang isinya adalah tentara, ternyata saya salah duga. Kapal itu ternyata kapal perawat alias kapal palang merah. Gila, kapal palang merah dibom juga, emang perang nggak mengenal temen. Seperti kata pepatah, everything is fair in love, war and business

Lanjut membaca

Laskar Pelangi Jaman Sekarang


Laskar Pelangi, sebuah karya sastra yang sangat fenomenal. Sebuah memoar dari Andrea Hirata yang memberi banyak sekali pelajaran tentang kehidupan. Satu hal yang paling menonjol adalah mencari ilmu itu tidak mudah, asalkan ada kemauan dan pengorbanan ilmu bisa didapatkan.

If there is a will, there is a way…

Setting lokasi Laskar Pelangi ada di Bangka Belitung, tepatnya di Manggar, Belitung Timur. Kebetulan saya bekerja di Pangkalpinang, ibukota Provinsi Bangka Belitung. Setidaknya masih satu provinsi lah sama Belitung Timur. Dan kebetulan juga beberapa bulan yang lalu saya mengaudit Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan di Kab. Bangka Selatan. Tugas itu mengharuskan saya untuk terjun langsung ke Sekolah Dasar disana. Saya jadi bisa mengamati keadaan sekolah-sekolah yang ada di pelosok kota. Jauh dari kota dan harus melewati hutan selama beberapa kilometer. Ternyata, berselang lebih dari 20 tahun sejak kejadian Laskar Pelangi keadaan yang ada disana tidak jauh beda. Setidaknya untuk skala jaman sekarang, era millenium.

Sekolah yang pertama kali saya kunjungi adalah SD 18 Paku. Perjalanan kesana ditempuh sekitar 2,5 jam dari pusat kota Toboali. Sekolah ini belum pernah mendapatkan DAK Bidang Pendidikan selama beberapa tahun, maka dari itu saya teman saya berangkat untuk melihat keadaan sekolah ini, sekaligus mengklarifikasi hal tersebut ke pihak sekolah. Saat sampai disana saya terkejut dengan keadaan sekolahnya. Tidak sehancur SD Muhammadiyah di Laskar Pelangi, tapi kondisinya bisa dibilang memprihatinkan. Ruang kelas kurang, tidak ada perpustakaan, tidak ada UKS, tidak ada ruang guru dan toilet hancur. Itulah gambaran kondisi SD 18 Paku. Tenaga pengajar pun kurang dan dari sedikit itu hanya 2 orang yang PNS, termasuk Kepala Sekolah. Satu ruang kelas dikorbankan untuk digunakan sebagai ruang guru. Saat dikonfirmasi mengenai DAK, saya mendapat info bahwa sekolah ini baru mendapat SK Definitif pembentukan sekolah pada tahun 2010. Itulah mengapa mereka belum bisa mendapat DAK Bidang Pendidikan untuk tahun-tahun sebelumnya. Kami kemudian mulai mengecek kondisi gedung sekolah satu persatu. Hasilnya tembok retak, atap lobang, pintu hancur, dan lantai bolong-bolong. Meski begitu, kelengkapan kelas seperti gambar pahlawan, nama-nama binatang dan beragam poster lainnya ada, walaupun keadaanya sudah tidak bisa disebut layak. Saat itu masih ada guru yang masih melakukan proses mengajar di kelas 2. Beliau mengajar dengan menggunakan bahasa Flores. Memang mayoritas penduduk di desa ini adalah transmigran dari Flores. Kemudian saya melakukan wawancara dengan beberapa guru, dengan begitu antusias mereka bercerita tentang anak didiknya. Bagaimana mereka datang ke sekolah dengan semangat. Kebanyakan murid rumahnya di tengah hutan, jadi mereka berangkat pagi buta melewati jalan setapak untuk pergi ke sekolah. Hampir tidak ada yang mengenakan sepatu. Sungguh suatu semangat yang luar biasa, saya merasa tertohok. Malu kepada diri sendiri melihat semangat belajar mereka. Salah satu guru kemudian menunjukkan piala hasil prestasi murid mereka yang pernah menjuarai lomba lari tingkat provinsi. Satu hal lagi, listrik belum ada di desa ini sehingga tidak bisa menggunakan alat elektronik di sekolah. Ternyata semangat Laskar Pelangi tetap terpelihara disini.

Lanjut membaca

Spasi


Kemarin kita menjadi satu. Namun sekarang aku dan kamu terpisah. Bukan hanya jarak. Namun juga ruang dan waktu. Aku yakin hal itu tak mampu dijembatani oleh apapun. Tak ada yang mampu membantu. Karena kita terpisah begitu jauh. Hingga tak mampu aku mengukurnya.

Seberapa jauhkah jarak yang memisahkan kita. Satu spasi. Hanya satu spasi.

Bila dahulu kita tanpa spasi. Sekarang antara aku dan kamu ada spasi. Dan aku sendirilah yang menekan tombol spasi itu. Dengan sadar. Tanpa paksaan.

Spasi, atau space dalam Bahasa Inggris, yang berarti ruang. Saat aku menekan tombol spasi, akan tercipta rongga antar huruf atau antar kalimat. Pemisah. Dan aku baru menyadarinya. Tombol spasi yang kutekan itu ternyata benar-benar menciptakan ruang yang memisahkan kita. Aku mengetik kata “kita” tanpa spasi. Sekarang aku mengetik “aku dan kamu”, ada spasi diantaranya. Benar-benar nyata. Ruang khayal namun nyata dalam hidupku.

Dulu aku selalu menuliskan “kekasih”. Sekarang aku menuliskan “mantan kekasih”. Lagi-lagi ada spasi yang memisahkan. Tetapi aku tak bisa mengetikkan “musuh” dengan spasi. Aku tak mau memilihnya. Aku masih ingin menjadikanmu “teman” atau “sahabat”.

Mungkin aku yang terlalu polos. Kertas putih hidupku terlalu penuh dengan spasi. Sehingga kalimat, kata dan huruf dalam kehidupanku tidak mempunyai makna. Masih pantaskah aku untuk hidup?

Berapa orang yang akan menangis saat aku mati?

Satu pertanyaan bodoh yang selalu dilontarkan orang-orang kesepian. Dan kini aku kesepian.

Pangkalpinang, 21 April 2010

Aku Bukan Nobita


Aku hanyalah nila setitik yang tak merusak susu sebelanga. Tetap utuh bersih murni. Tak ternodai. Tak mampu aku merusaknya. Ataukah susu itu yang memilih untuk tak mau kurusak. Kini aku terjebak antara bertahan atau menyerah.

Aku hanyalah makhluk Tuhan yang tidak seksi. Gendut. Atau mungkin lebih pantas disebut buncit. Bekas luka dimana-mana. Bukan termasuk tipe idola kaum hawa. Dan aku tak ingin. karena memang menjadi idola remaja putri di dunia itu tak enak.

Aku adalah manusia yang dianggap pintar oleh sebagian orang. Dan sebagian lainnya menganggap aku bodoh. Entah darimana mereka menilainya. Aku tak tahu dan tak mau tahu.

Aku adalah manusia yang ingin hidup bebas dalam duniaku sendiri. Tak diatur dan tak mengatur. Tak diperintah dan tak memerintah. Hanya terwujud dalam anganku saja.

Aku merenungi semuanya malam ini. Setelah banyak renungan-renungan di malam sebelumnya. Renungan kosong dan tak berguna. Tapi aku menikmatinya. Merasakan kehadiran. Tak tahu wujudnya.

Dan aku sadar. Aku bukan Nobita. Yang memiliki Doraemon untuk selalu membantunya dalam tiap masalah. Mengeluh. Memohon. Mengharap. Tanpa ada usaha.
Aku sekarang bukan aku. Entah kapan aku menjadi aku.

Pangkalpinang, 13 April 2010