Ambigram


Ambigram adalah seni menulis indah (semacam kaligrafi) yang menuliskan suatu kata dengan cara yang unik, yaitu bisa dibaca dari dua arah. Entah itu decerminkan. Diputar 180 derajat. Atau dibaca terbalik.

Aku membuat ambigram ini untuk seorang wanita. Kebetulan namanya mirip dengan namaku. Andik. Antik.

Gambar diatas dapat dibaca Andik. Namaku. Apabila diputar 180 derajat hasilnya akan terbaca kata Antik. Seperti gambar dibawah.

Simple but memorable. Ambigram ini dibuat saat pelajaran di kelas. Bosan menunggu dan mendengar. Tiba-tiba saja terlintas.

Di situs milik John Langdon banyak terdapat ambigram yang legendaris. Seperti yang digunakan dalam film “Angel and Demons”. Illuminati. 4 unsur. Semua ambigram itu diciptakan oleh John Langdon.

John Langdon Site

Sore Ini Tanpa Pelangi


Di balkon kamarku di lantai 3.

Aku berharap kamu lewat. Meniti tangga ke atap itu dengan hati-hati. Satu demi satu titian kamu lewati. Rambut lurusmu yang lupa dikuncir berkibar diterpa angin. Kaus hitam dan celana jins kesayanganmu. Tas punggung abu-abu berisi modul yang entah akan dibaca atau tidak. Sendal yang sempat putus satu talinya saat masuk ke dalam goa. Dan senyum manis dengan lesung pipit itu.

Ditemani sebungkus Djarum Super. Sebotol kopi. Sebuah gitar. Aku masih menunggumu.

Tak lama kemudian gerimis turun membasahi bumi. Bau tanah tanah yang tertimpa hujan begitu menyengat. Dan aku tahu kau tak akan lewat.

Sore ini tanpa pelangi.

Aku merindukan aroma khas milikmu. Bukan wangi teman sekamarku. Aroma yang bisa membuatku terpaku. Untuk kemudian sadar. Ternyata kamu masih ada di pelukanku.

Sore ini masih tanpa pelangi.

Dan aromamu membuatku terpaku.

Makassar, 10 Maret 2010

Cahaya Lilin


Cahaya lilin itu indah. Menenangkan. Sejuk. Tapi sayang nggak bisa bertahan lama. Meleleh dan habis.

Malam itu, ditemani cahaya lilin, mengalir lancar cerita dari bibir mungil. Cerita yang sendu. Tegar.

Dari bibir lain yang penuh asap terlontar cerita yang berbeda. Cerita yang sendu. Lemah.

Cahaya lilin itu kemudian mati. Habis sudah lilinnya meleleh. Tak ada lagi cahaya ketenangan. Kulirik jam di HP Nokia 6600 busuk itu. 20.30 WITA. Saatnya turun dan bersiap.

Malam ini akan menjadi malam sendu. Ketika Si Lemah dan Sang Tegar saling bertukar cerita. Ditertawakan oleh bulan yang terlihat pongah. Melihat mereka bingung harus melangkah kemana. Tak tahu harus kemana. Pelukan hangat semakin menambah kebingungan.

Seutas senyum manis yang mengandung lesung pipit menyeruak. Di atap itu. Di malam itu.

Makassar, 15 Maret 2010