Sore Ini Tanpa Pelangi


Di balkon kamarku di lantai 3.

Aku berharap kamu lewat. Meniti tangga ke atap itu dengan hati-hati. Satu demi satu titian kamu lewati. Rambut lurusmu yang lupa dikuncir berkibar diterpa angin. Kaus hitam dan celana jins kesayanganmu. Tas punggung abu-abu berisi modul yang entah akan dibaca atau tidak. Sendal yang sempat putus satu talinya saat masuk ke dalam goa. Dan senyum manis dengan lesung pipit itu.

Ditemani sebungkus Djarum Super. Sebotol kopi. Sebuah gitar. Aku masih menunggumu.

Tak lama kemudian gerimis turun membasahi bumi. Bau tanah tanah yang tertimpa hujan begitu menyengat. Dan aku tahu kau tak akan lewat.

Sore ini tanpa pelangi.

Aku merindukan aroma khas milikmu. Bukan wangi teman sekamarku. Aroma yang bisa membuatku terpaku. Untuk kemudian sadar. Ternyata kamu masih ada di pelukanku.

Sore ini masih tanpa pelangi.

Dan aromamu membuatku terpaku.

Makassar, 10 Maret 2010

About these ads

  1. ktawa sendiri ak bc ini,gembuuul..

    ‘bukan wangi teman sekamarku’–yakin bukan? hahaha..

    miss u..
    *with the stars n fullmoon around the sky

  2. hmm.. ga nyangka org seamburadul km punya kreatifitas n minat k tulisan..

    thx dh blg ak inspiring..(*trsanjung) kl smpt liat blog ku y tlg ks pndapat d ‘intuisi’..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s